Sabtu, 01 November 2014

Kader PKS Lampung adakan Silaturahim bersama Gubenur Jawa Barat Ahmad Heriyawan(Kang Aher)

Bandar lampung  1 November 2014 tepatnya di hotel bukit randu kader PKS Lampung mengadakan ajang silaturahim bersama Gubenur jawa barat yaitu Ahmad Heriyawan yang juga kader PKS dan tokoh masyarakat provinsi jawabarat. Dalam acara silaturahim itu di hadiri juga oleh Anggota  DPRD Provinsi Lampung, dan acara di awalai oleh wakil ketua DPW PKS Lampung Johan Sulaiman yang saat ini juga Pimpinan DPRD Provinsi Lampung.
Kang Aherpun dalam kunjungan kerjanya ke Provinsi Lampung menyempatkan Bersilaturahim dengan kader PKS Provinsi Lampung. Dan kang Aherpun sangat senang bisa bersilaturahim ke lampung dan di sela sela kesibukanya sebagai Gubernur jawa barat dan bisa bertemu langsung dengan kader kader PKS Lampung.

Dalam acara tersebut kang Aherpun mengatakan ketika kita ingin mencapai target target yang besar maka harus diawali dengan kerja keras serta Ihktiar dan tak lupa Doa. Kang aherpun menjelaskan bagai mana ketika kita memasuki di kelembagaan negara maka yang harus dilakukan antara lain, Mewujudkan kesejatran dan kemakmuran di segala aspek, Menciptakan rasa aman dan tentram di segala lini agar masyarakatpun hidup dengan Damai dan tentram, Memberikan kepahaman tentang Agama Dan Nasionalisme. Itulah pokok yang harus di perdalam ketika kita memasuki kelembagaan Negara ini.

Dan kang Aher juga mengatakan Negara indonesia ini sangatlah makmur dan kaya maka itu ketika kita sudah memasuki yang namanya kelembagaan Negara ini terus berbuat baik dan bekerja untuk mensejahtrakan orang banyak yang menjadi titik ukur dalam cita cita besar negara ini. Dan kang Aherpun mengajak bersama sama kader PKS Lampung yang notabenya partai dakwah itu jangan pernah lelah dalam melayani orang orang banyak untuk memberikan kebaikan serta manfaat yang luar biasa. Itulah cita cita yang muliya dalam partai dakwah ini, itulah pesan kang Aher dalam silaturahim bersama sama kader kader PKS Lampung.[]Lilik/Moslemku

Minggu, 19 Oktober 2014

Curahan Rakayat INDONESIA Untuk Presiden Yang Baru yaitu JKW

Barakallah /Selamat Bp. Joko Widodo dan Bp. Jusuf Kala sang Presiden yang baru insyAllah, jika tidak ada halang melintang besok tgl 20 Oktober 2014 tepatnya di gedung MPR akan di ambil Sumpah jabatan serta pelantikan menjadi Bp Presiden kita semuanya rakyat indonesia, yang akan menggantikan Bp. Susilo Bambang Yudoyono(SBY).
Dan jika berhasil dalam kepemimpinanya kelak 5 Tahun mendatang maka Bp. Joko Widodo dan Bp. Jusuf Kala akan menerima predikat dengan pujian dari rakyat indonesia di akhir periode kepemimpinanya dan berarti Bp memang keren sekali yang sesuai dengan yang di beritakan media Bp, dan sebaliknya juga jika akhir kepemimpinan menambah rakyat menderita atau menambah kemiskinan maka sudah bisa di pastikan akan mendapatkan hujatan, cacian serta kegagalan dalam sejarah kepemimpinanya di era 2014 ini. Dan pastinya rakyat Indonesia akan sangat kecewa sekali dan marah kepada JKW.
Dan untuk para pendukungnya jokowi dan Jusuf Kala di pilpres 9 April 2014 kemaren saya ucapkan selamat mengawal jagoanya, tapi jika di kritik jangan sewot kayak kebakaran jengot ya teman teman pendukung JKW. Karena terkadang hal yang baik itu datangnya dari pihak lain atau dari pihak lawan politiknya di waktu pilpres 9 April 2014 yang lalu.
Dan untuk Bp. Susilo Bambang Yudoyono (SBY) terimakasih banyak yang telah menjadi presiden kami khususnya Rakyat Indonesia. Dan sekali lagi terimakasih banyak SBY sudah mencurahkan perhatiannya, Tenaga, Fikiran untuk menggelola Negara tercinta ini yaitu Negara INDONESIA tetcinta.

Atas Nama Rakyat Indonesia

Metamorfosis kupu-kupu


Metamorfosis adalah proses dari ulat menjadi hewan baru (fase sempurna) yaitu kupu-kupu. Pada prosesnya terjadi cukup panjang dan lama namum sederhana. Pertama-tama mulai dari telur yang diletakkan oleh kupu-kupu pada daun (biasanya daun pohon jeruk atau dapat juga pohon yang lain) yang bertujuan nantinya daun tersebut bisa menjadi bahan makanan ulat tersebut hingga mencapai dewasa setelah tiba waktunya menjadi pupa/ kepompong dan dalam beberapa hari akan menjadi kupu-kupu baru.
# TELUR
Telur akan menetas antara 3 – 5 hari, larva akan berjalan ke pinggir daun tumbuhan inang dan memulai memakannya. Sebagian larva mengkonsumsi cangkang telur yang kosong sebagai makanan pertamanya. Kulit luar dari larva tidak meregang mengikuti pertumbuhannya, tetapi ketika menjadi sangat ketat larva akan berganti kulit.
LARVA (ULAT)

Jujurlah engkau Manusia

Manusia belajarlah engkau jujur disetiap langkah dan tindakan diri kita dan janganlah engkau suka berbohong bkarena kebohonggan itu akan menghantarkan kesesatan dalam hidup kita masing masing.
ketika engkau jujur maka engkau akan selalu di hargai dan selalu di percayai oleh setiap insan di muka bumi ini. mari belajarlah dari sekarang tentang kejujuran hati kita semua.#Selamat Belajar Jujur.

Senin, 03 September 2012

Kenapa Memperingati HAPPY INTERNATIONAL HIJAB SOLIDARITY DAY ?

Asslamu'alaikum Wr Wb

Buka FBkala itu tanggal tanggal 4 september 2012 tepatnya jam 11 kurang 2034 detik kriik krikk

bermunculanlah ucapan-ucapan " International Hijab Solidarity Day" disetiap sudut beranda Fb, klo twitter masih jarang dibuka..
jujur..saya sebagai Pria, baru tahu sebenarnya hari ini hari itu,


Mulailah Otak saya mencoba menelusuri Ruang dan waktu kenapa sampai diPeringatinya...
Tanggal 4 september sebagai International Hijab Solidarity Day



Pada suatu hari....

"4 September adalah hari bersejarah buat muslimah dunia karena International Hijab Solidarity Day dimana diperingati karena adanya keputusan pemerintah London yang melarang mahasiswa untuk memakai simbol-simbol keagamaan, sehingga banyak warga muslim yang memprotes keputusan ini. hal; ini tentu aja menyulitkan muslimah untuk menutup aurat secara sempurna. Karena itu, pada tanggal 4 september 2004 diadakanlah konferensi London yang dihadiri oleh Syeikh Yusuf Al Qardawi, Prof Tariq R. dan juga 300 delegasi dari 102 organisasi Inggris International, yang kemudian menghasilkan keputusan.


1. Menetapkan dukungan terhadap penggunaan jilbab
2. Penetapan tanggal 4 september sebagai hari solidaritas jilbab internasional (IHSD)
3. Rencana aksi untuk tetap membela hak muslimah untuk mempertahankan busana takwa mereka

selain itu IHSD diperingati untuk mengenang Marwa Al-Sharbini, seorang muslimah asal Mesir yang dibunuh oleh seorang pemuda Jerman keturunan Rusia di ruang sidang kota Dresden, Jerman awal Juli lalu. Abeer *Ketua Assembly for the Protection of Hijab, mengatakan, Marwa Al-Sharbini adalah seorang martir bagi perjuangan muslimah yang mempertahankan jilbabnya. “Ia menjadi korban Islamofobia, yang masih dialami banyak Muslim di Eropa. Kematian Marwa layak untuk diperingati dan dijadikan sebagai Hari Hijab Sedunia,” kata Abeer. (dikutip dari berbagai sumber)
SEBUAH CERITA INSPIRATIF dari sebuah Grup FB :
"Seorang pria Inggris sedang berbincang-bincang dengan temannya yang seorang Muslim mengenai wanita dalam pandangan Islam::.

Pria Inggris : “Kenapa dalam Islam wanita tidak boleh berjabat tangan dengan pria?"

Pria Muslim : (tersenyum) “Kamu tahu Ratu Elizabeth, bukan?”

Pria Inggris : “Ya, tentu saja. Kami sangat menyanjung dan menghormati Ratu kami.”

Pria Muslim : "Apakah semua orang bisa berjabat tangan dengan Ratu?."

Pria Inggris : (tertawa) "Tentu saja tidak! Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat berjabat tangan dengan Ratu kami."

Pria Muslim : “Seperti itulah kedudukan wanita-wanita kami (muslimah). Bagaikan seorang ratu. Tidak boleh sembarang orang dapat menyentuhnya begitu saja. Mereka adalah wanita-wanita yang terjaga dan terhormat.”

Pria Inggris : “...” (termenung).


Keutaaman atau Manfaat Puasa Syawal


Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa berpuasa Ramadhan dan meneruskannya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, berarti dia telah berpuasa satu tahun." (HR. Imam Muslim dan Abu Dawud). Dan masih hadits yang sama dengan perawi lain. (HR. Ibn Majah).
Dalam hadits tersebut diterangkan, bahwa pahala orang yang berpuasa Ramadhan dan enam hari di bulan Syawwal sama pahala d
engan puasa setahun. Karena satu pahala kebaikan nilainya sama dengan sepuluh kali kebaikan (QS. Al-An' am:160). Jika satu kebaikan dihitung sepuluh pahala, berarti puasa Ramadhan selama satu bulan dihitung sepuluh bulan. Dan puasa enam hari di bulan Syawwal dihitung dua bulan. Jadi total jumlahnya adalah satu tahun.



Berikut ini lima Keutaaman atau Manfaat Puasa Syawal.

- Keutaaman atau Manfaat Puasa Syawal yang pertama:

Puasa syawal akan menggenapkan ganjaran berpuasa setahun penuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164, dari Abu Ayyub Al Anshori). Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh, -pen) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan). (Lihat Syarh Muslim, 4/186, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah)

Jadi seolah-olah jika seseorang melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal] (QS. Al An’am ayat 160).” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dari Tsauban –bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1007) Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan semisal dan inilah balasan kebaikan yang paling minimal. (Lihat Fathul Qodir, Asy Syaukani, 3/6, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah dan Taisir Al Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 282, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H)

- Keutaaman atau Manfaat Puasa Syawal yang kedua

Puasa syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib Yang dimaksudkan di sini bahwa puasa syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang seringkali ada kekurangan di sana-sini. Inilah yang dialami setiap orang dalam puasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang mesti disempurnakan dengan amalan sunnah. (Lihat Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 394, Daar Ibnu Katsir, cetakan kelima, 1420 H [Tahqiq: Yasin Muhammad As Sawaas])

- Keutaaman atau Manfaat Puasa Syawal Ketiga:

Melakukan puasa syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan Jika Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan sholih selanjutnya. Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan sholih lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal. Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf, “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/417, Daar Thoyyibah, cetakan kedua, 1420 H [Tafsir Surat Al Lail]) Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 394)

Renungkanlah! Bagaimana lagi jika seseorang hanya rajin shalat di bulan Ramadhan (rajin shalat musiman), namun setelah Ramadhan shalat lima waktu begitu dilalaikan? Pantaskah amalan orang tersebut di bulan Ramadhan diterima?! Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts ’Ilmiyyah wal Ifta’ (komisi fatwa Saudi Arabia) mengatakan, ”Adapun orang yang melakukan puasa Ramadhan dan mengerjakan shalat hanya di bulan Ramadhan saja, maka orang seperti ini berarti telah melecehkan agama Allah. (Sebagian salaf mengatakan), “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.” Oleh karena itu, tidak sah puasa seseorang yang tidak melaksanakan shalat di luar bulan Ramadhan. Bahkan orang seperti ini (yang meninggalkan shalat) dinilai kafir dan telah melakukan kufur akbar, walaupun orang ini tidak menentang kewajiban shalat. Orang seperti ini tetap dianggap kafir menurut pendapat ulama yang paling kuat.” (Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan ke-3, Fatawa no. 102, 10/139-141) Hanya Allah yang memberi taufik.

- Keutaaman atau Manfaat Puasa Syawal Keempat:

Melaksanakan puasa syawal adalah sebagai bentuk syukur pada Allah Nikmat apakah yang disyukuri? Yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan. Bukankah kita telah ketahui bahwa melalui amalan puasa dan shalat malam selama sebulan penuh adalah sebab datangnya ampunan Allah, begitu pula dengan amalan menghidupkan malam lailatul qadar di akhir-akhir bulan Ramadhan?! Ibnu Rajab mengatakan, ”Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 394) Sampai-sampai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan shalat malam. Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. Ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya oleh istri tercinta beliau yaitu ’Aisyah radhiyallahu ’anha mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan, ”Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari no. 4837 dan Muslim no. 2820) Ingatlah bahwa rasa syukur haruslah diwujudkan setiap saat dan bukan hanya sekali saja ketika mendapatkan nikmat. Namun setelah mendapatkan satu nikmat, kita butuh pada bentuk syukur yang selanjutnya. Ada ba’it sya’ir yang cukup bagus: ”Jika syukurku pada nikmat Allah adalah suatu nikmat, maka untuk nikmat tersebut diharuskan untuk bersyukur dengan nikmat yang semisalnya”. Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, ”Setiap nikmat Allah berupa nikmat agama maupun nikmat dunia pada seorang hamba, semua itu patutlah disyukuri. Kemudian taufik untuk bersyukur tersebut juga adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan bentuk syukur yang kedua. Kemudian taufik dari bentuk syukur yang kedua adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan syukur lainnya. Jadi, rasa syukur akan ada terus sehingga seorang hamba merasa tidak mampu untuk mensyukuri setiap nikmat. Ingatlah, syukur yang sebenarnya adalah apabila seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu untuk bersyukur (secara sempurna).” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 394-395)

- Keutaaman atau Manfaat Puasa Syawal Keutamaan Kelima:

Melaksanakan puasa syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinu dan bukan musiman saja Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah Ramadhan itu berakhir. Amalan tersebut seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan. Sebagian manusia begitu bergembira dengan berakhirnya bulan Ramadhan karena mereka merasa berat ketika berpuasa dan merasa bosan ketika menjalaninya. Siapa yang memiliki perasaan semacam ini, maka dia terlihat tidak akan bersegera melaksanakan puasa lagi setelah Ramadhan karena kepenatan yang ia alami. Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa setelah hari ’ied, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa benci. Ada sebagian orang yang hanya rajin ibadah dan shalat malam di bulan Ramadhan saja, lantas dikatakan kepada mereka, “Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun”. Ibadah bukan hanya di bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja. Asy Syibliy pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Sya’ban saja. Kami kami juga dapat mengatakan, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja. Semoga Allah memberi taufik. ’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah mengenai amalan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ”Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab, ”Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (ajeg).” (HR. Bukhari no. 1987 dan Muslim no. 783) Amalan seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal menjemput.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematian.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah (yang artinya), ”Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99). (Latho-if Al Ma’arif, hal. 398) Ibnu ’Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa ”al yaqin” adalah kematian. Dinamakan demikian karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi. Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ahli tafsir lainnya mengatakan, makna ayat tersebut adalah perintah untuk beribadah kepada Allah selamanya, sepanjang hidup. (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 4/79, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah)

Sumber (Mohon Tidak Menghapus LINK AKTIF Ini) : http://dhio89.blogspot.com/2012/08/keutaaman-atau-manfaat-puasa-syawal.html#ixzz25Oef3r5M

Senin, 06 Agustus 2012

Keutamaan Dan Hukum I’tikaf

Segala pujian dan sanjungan hanya bagi Allah Rabb para pendahulu dan seluruh penghuni bumi hingga akhir zaman. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada junjungan dan teladan kita Nabi Agung Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam seorang hamba yang diutus Allah sebagai rahmat bagi alam semesta, demikian pula semoga tercurah kepada seluruh keluarga dan para shahabatnya.

Dengan risalah singkat ini penulis mengharapkan agar dapat memberi manfaat, secara khusus bagi pribadi penulis dan umumnya kepada kaum muslimin. Mudah-mudahan Allah Subhaanahu wa Ta’ala menjadikan seluruh amalan kita pemberat timbangan kebajikan kelak nanti di akherat, Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Makna i’tikaf

Menurut bahasa i’tikaf punya arti menetapi sesuatu dan menahan diri agar senantiasa tetap berada padanya, baik hal itu berupa kebajikan ataupun keburukan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman: Al A’raf ayat 138:
“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab: “Sesung-guhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Ilah)”. (QS.7:138)

Sedangkan menurut syara’ i’tikaf berarti menetapnya seorang muslim didalam masjid untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Hukum i’tikaf

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf hukumnya sunnah, sebab Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukannya tiap tahun untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon pahalaNya. Terutama pada hari-hari di bulan Ramadhan dan lebih khusus ketika memasuki sepuluh akhir dari bulan suci itu. Demikian tuntunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Yang wajib beri’tikaf

Sebagaimana dimaklumi bahwa i’tikaf hukumnya sunnah, kecuali jika seseorang bernadzar untuk melakukannya, maka wajib baginya untuk menunaikan nadzar tersebut. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Umar bin Khaththab Radhiallaahu ‘anhu yang diriwayatkan imam Al Bukhari dan Muslim.

Di sebutkan bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan i’tikaf semenjak beliau sampai di Madinah hingga akhir hayat.

Tempat i’tikaf

I’tikaf tempatnya di setiap masjid yang di dalamnya dilaksanakan shalat berjama’ah kaum laki-laki, firman Allah Ta’ala:
“Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangang Allah, maka janganlah kamu mendekatinya” (Al-Baqarah: 187)

Orang yang beri’tikaf pada hari Jum’at disunnahkan untuk beri’tikaf di masjid yang di gunakan untuk shalat Jum’at. Tetapi jika ia beritikaf di masjid yang hanya untuk shalat jama’ah lima waktu saja maka hendaknya ia keluar hanya sekedar untuk shalat jum’at (jika telah tiba waktunya), kemudian kembali lagi ke tempat i’tikafnya semula.

Waktu i’tikaf

I’tikaf di sunnahkan kapan saja di sembarang waktu, maka diperbolehkan bagi setiap muslim untuk memilih waktu kapan ia memulai i’tikaf dan kapan mengakhirinya. Namun yang paling utama adalah i’tikaf di bulan suci Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir. Inilah waktu i’tikaf yang terbaik sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih: “Bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiallaahu ‘anhua)

Sunnah-sunnah bagi orang yang sedang i’tikaf

Di sunnahkan bagi para mu’takif supaya memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya untuk berdzikir, membaca Al Qur’an, mengerjakan shalat sunnah (terkecuali pada waktu-waktu terlarang), serta memperbanyak tafakur tentang keadaannya yang telah lalu, hari ini dan masa mendatang. Juga banyak-banyak merenungkan tentang hakekat hidup di dunia ini dan kehidupan akhirat kelak.

Hal-hal yang harus dihindari mu’takif

Orang yang sedang i’tikaf dianjurkan untuk menghindari perkara-perkara yang tidak bermanfaat seperti banyak bercanda, mengobrol yang tidak berguna sehingga mengganggu konsentrasi i’tikafnya. Karena i’tikaf bertujuan mendapatkan keutamaan bukan malah menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak di sunnahkan.

Ada sebagian orang yang beri’tikaf namun dengan meninggalkan tugas dan kewajibannya. Hal ini tidak dapat di benarkan karena sungguh tidak proporsional seseorang meninggalkan kewajiban untuk sesuatu yang sunnah. Oleh karena itu orang yang i’tikaf hendaknya ia menghentikan i’tikafnya jika memiliki tanggungan atau kewajiban yang harus dikerjakan.

Hal-hal yang mebolehkan mu’takif keluar dari masjid

Seorang mu’takif diperbolehkan meninggalkan tempat i’tikafnya jika memang ada hal-hal yang sangat mendesak. Diantaranya; buang hajat yaitu keluar ke WC untuk buang air, atau untuk mandi, keluar untuk makan dan minum jika tidak ada yang mengantarkan makanan kepadanya, dan pergi untuk berobat jika sakit. Demikian pula untuk keperluan syar’i seperti; shalat Jum’at jika tempat ia beri’tikaf tidak digunakan untuk shalat Jum’at, menjadi saksi atas suatu perkara dan juga boleh membantu keluarganya yang sakit jika memang mengharuskan untuk dibantu. Juga keperluan-keperluan semisalnya yang memang termasuk kategori dharuri (harus).

Larangan-larangan dalam i’tikaf

Orang yang sedang bei’tikaf tidak diperbolehkan keluar dari masjid hanya untuk keperluan sepele dan tidak penting, artinya tidak bisa dikategorikan sebagai keperluan syar’i. Jika ia memaksa keluar untuk hal-hal yang tidak perlu tersebut maka i’tikafnya batal. Selain itu ia juga dilarang melakukan segala perbuatan haram seperti ghibah (menggunjing), tajassus (mencari-cari kesalahan orang), membaca dan memandang hal-hal yang haram. Pendeknya semua perkara haram diluar i’tikaf maka pada saat i’tikaf lebih ditekankan lagi keharamannya. Mu’takif juga di larang untuk menggauli istrinya, karena hal itu membatalkan i’tikafnya.

Menentukan syarat dalam i’tikaf

Seorang mu’takif diperbolehkan menentukan syarat sebelum melakukan i’tikaf untuk melakukan sesuatu yang mubah. Misalnya saja ia menetapkan syarat agar makan minum harus dirumahnya, hal ini tidak apa-apa. Lain halnya jika ia pulang dengan tujuan menggauli istrinya, keluar masjid agar bisa santai atau mengurusi dagangannya maka i’tikafnya menjadi batal. Karena semua itu bertentangan dengan makna dan pengertian i’tikaf itu sendiri.

Hikmah dan Manfaat i’tikaf

I’tikaf memiliki hikmah yang sangat besar yakni menghidupkan sunnah Rasul n dan menghidupkan hati dengan selalu melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Sedangkan manfaat i’tikaf diantaranya adalah sebagai berikut:

· Untuk merenungi masa lalu dan memikirkan hal-hal yang akan dilakukan di hari esok.

· Mendatangkan ketenangan, keten-traman dan cahaya yang menerangi hati yang penuh dosa.

· Mendatangkan berbagai macam kebaikan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala . Amalan-amalan kita akan diangkat dengan rahmat dan kasih sayangNya

· Orang yang beri’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan akan terbebas dari dosa-dosa karena pada hari-hari itu salah satunya bertepatan dengan lailatul qadar.

Mudah-mudahan Allah memberikan taufik dan inayahNya kepada kita agar dapat menjalankan i’tikaf sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam , terutama di bulan Ramadhan yang mulia ini.

Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, segenap keluarga dan shahabatnya, Amiin.

(Disampaikan oleh yang mulia Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Jibrin.)