Kamis, 24 Mei 2012

6 Keutamaan Shalat Dhuh


Shalat dhuha memiliki rahasia yang menakjubkan dengan bertaburkan keutamaan. Seandainya orang-orang yang melupakannya itu mengetahui keutamaannya, pastilah mereka tidak akan pernah melewatkan untuk shalat dhuha.

Di antara keutamaannya itu adalah:

pertama, sebagai pengganti sedekah anggota badan. Manusia memiliki 360 sendi, yang setiap sendinya hendaknya dikeluarkan sedekah pada setiap harinya. Tentu, hal ini merupakan pekerjaan yang sangat sulit untuk dilaksanakan. Akan tetapi, Rasulullah SAW menawarkan solusi praktis untuk mengatasi itu semua, yaitu dengan menggantinya dua rakaat shalat dhuha.

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap sendi tubuh setiap orang di antara kamu harus disedekahi pada setiap harinya. Mengucapkan satu kali tasbih (Subhanallah) sama dengan satu sedekah, satu kali tahmid (Alhamdulillah) sama dengan satu sedekah, satu kali tahlil (La ilaha illallah) sama dengan satu sedekah, satu kali takbir (Allahu Akbar) sama dengan satu sedekah, satu kali menyuruh kebaikan sama dengan satu sedekah, dan satu kali mencegah kemungkaran sama dengan satu sedekah. Semua itu dapat dicukupi dengan melaksanakan dua rakaat shalat dhuha.” (HR Muslim dan Abu Dawud).

Kedua, dibangunkan istana dari emas. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa shalat dhuha 12 rakaat, maka Allah SWT akan membangunkan baginya istana dari emas di surga.” (HR Ibnu Majah).

Ketiga, diampuni dosa-dosanya. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menjaga shalat dhuha, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR Ibnu Majah).
Dalam hadis yang lain, “Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh kemudian ia duduk dan tidak mengucapkan perkataan yang sia-sia, melainkan berzikir pada Allah SWT hingga menunaikan shalat dhuha empat rakaat, maka dosa-dosanya akan terhapus bersih seperti anak yang baru dilahirkan oleh ibunya, ia tidak punya dosa.” (HR Abu Ya’la).

Keempat, dicukupi kebutuhan hidupnya. Dalam hadis Qudsi, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, rukuklah (shalatlah) karena Aku pada awal siang (shalat dhuha) empat rakaat, maka Aku akan mencukupi (kebutuhan)-mu sampai sore hari.” (HR Tirmidzi).

Kelima, mendapat pahala setara ibadah haji dan umrah. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah kemudian duduk berzikir untuk Allah sampai matahari terbit kemudian (dilanjutkan dengan) mengerjakan shalat dhuha dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya.” (HR Tirmidzi).

Keenam, masuk surga melalui pintu dhuha. Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya di surga kelak terdapat pintu yang bernama adh-Dhuha, dan pada hari kiamat nanti akan terdengar panggilan, di manakah orang-orang yang melanggengkan shalat dhuha, ini adalah pintu kalian masuklah kalian dengan rahmat Allah SWT.” (HR Thabrani).

Saudaraku, begitu banyak keutamaan yang Allah janjikan kepada orang-orang yang membiasakan shalat dhuha. Masihkan kita tidak tergiur untuk mengerjakannya? Janji Allah mana lagi yang akan kita ragukan? Wallahu a’lam.

KUMPULAN 10 HADIST - FADHILAH SEDEKAH


1. Dari Abu Hurairah r.a., Nabi saw. bersabda, “Seandainya aku mempunyai emas sebesar gunung Uhud, sungguh aku gembira apabila ia tidak tertinggal di sisiku selama tiga malam, kecuali aku sediakan untuk membayar utang.” (Bukhari)

2. Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, “Ketika seorang hamba berada pada waktu pagi, dua malaikat akan turun kepadanya, lalu salah satu berkata, ‘Ya Allah, berilah pahala kepada orang yang menginfakkan hartanya.’ Kemudian malaikat yang satu berkata, ‘Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang bakhil.” (Muttafaq ‘Alaih).

3. Dari Abu Umamah r.a., Nabi saw. bersabda, “Wahai anak Adam, seandainya engkau berikan kelebihan dari hartamu, yang demikian itu lebih baik bagimu. Dan seandainya engkau kikir, yang demikian itu buruk bagimu. Menyimpan sekadar untuk keperluan tidaklah dicela, dan dahulukanlah orang yang menjadi tanggung jawabmu.” (Muslim).


4. Dari Uqbah bin Harits r.a., ia berkata, “Saya pernah shalat Ashar di belakang Nabi saw., di Madinah Munawwarah. Setelah salam, beliau berdiri dan berjalan dengan cepat melewati bahu orang-orang, kemudian beliau masuk ke kamar salah seorang istri beliau, sehingga orang-orang terkejut melihat perilaku beliau saw. Ketika Rasulullah saw. keluar, beliau merasakan bahwa orang-orang merasa heran atas perilakunya, lalu beliau bersabda, ‘Aku teringat sekeping emas yang tertinggal di rumahku. Aku tidak suka kalau ajalku tiba nanti, emas tersebut masih ada padaku sehingga menjadi penghalang bagiku ketika aku ditanya pada hari Hisab nanti. Oleh karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan.” (Bukhari).

5. Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa seseorang telah bertanya kepada Nabi saw., “Ya Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?” Rasulullah saw. bersabda, “Bersedekah pada waktu sehat, takut miskin, dan sedang berangan-angan menjadi orang yang kaya. Janganlah kamu memperlambatnya sehingga maut tiba, lalu kamu berkata, ‘Harta untuk Si Fulan sekian, dan untuk Si Fulan sekian, padahal harta itu telah menjadi milik Si Fulan (ahli waris).” (H.r. Bukhari, Muslim).

6. Abu Hurairah r.a. berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Seorang laki-laki dari Bani Israil telah berkata, ‘Saya akan bersedekah.’ Maka pada malam hari ia keluar untuk bersedekah. Dan ia a telah menyedekahkannya (tanpa sepengetahuannya) ke tangan seorang pencuri. Pada keesokan harinya, orang-orang membicarakan peristiwa itu, yakni ada seseorang yang menyedekahkan hartanya kepada seorang pencuri. Maka orang yang bersedekah itu berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah jatuh ke tangan seorang pencuri.” Kemudian ia berkeinginan untuk bersedekah sekali lagi. Kemudian ia bersedekah secara diam-diam, dan ternyata sedekahnya jatuh ke tangan seorang wanita (ia beranggapan bahwa seorang wanita tidaklah mungkin menjadi seorang pencuri). Pada keesokan paginya, orang-orang kembali membicarakan peristiwa semalam, bahwa ada seseorang yang bersedekah kepada seorang pelacur. Orang yang memberi sedekah tersebut berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah sampai ke tangan seorang pezina.” Pada malam ketiga, ia keluar untuk bersedekah secara diam-diam, akan tetapi sedekahnya sampai ke tangan orang kaya. Pada keesokan paginya, orang-orang berkata bahwa seseorang telah bersedekah kepada seorang kaya. Orang yang telah memberi sedekah itu berkata, “Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sedekah saya telah sampai kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya.” Pada malam berikutnya, ia bermimpi bahwa sedekahnya telah dikabulkan oleh Allah swt. Dalam mimpinya, ia telah diberitahu bahwa wanita yang menerima sedekahnya tersebut adalah seorang pelacur, dan ia melakukan perbuatan yang keji karena kemiskinannya. Akan tetapi, setelah menerima sedekah tersebut, ia berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang kedua adalah orang yang mencuri karena kemiskinannya. Setelah menerima sedekah tersebut, pencuri tersebut berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang ketiga adalah orang yang kaya, tetapi ia tidak pernah bersedekah. Dengan menerima sedekah tersebut, ia telah mendapat pelajaran dan telah timbul perasaan di dalam hatinya bahwa dirinya lebih kaya daripada orang yang memberikan sedekah tersebut. Ia berniat ingin memberikan sedekah lebih banyak dari sedekah yang baru saja ia terima. Kemudian, orang kaya itu mendapat taufik untuk bersedekah.” (Kanzul)

7. Dari Ali r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Segeralah bersedekah, sesungguhnya musibah tidak dapat melintasi sedekah.” (Razin)

8. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah swt. akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah swt., Allah swt. akan mengangkat (derajatnya). (Muslim)
9. Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, “Ketika seseorang sedang berada di padang pasir, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Curahkanlah ke kebun Fulan.’ Maka bergeraklah awan itu, kemudian turun sebagai hujan di suatu tanah yang keras berbatuan. Lalu, salah satu tumpukan dari tumpukan bebatuan tersebut menampung seluruh air yang baru saja turun, sehingga air mengalir ke suatu arah. Ternyata, air itu mengalir di sebuah tempat di mana seorang laki-laki berdiri di tengah kebun miliknya sedang meratakan air dengan cangkulnya. Lalu orang tersebut bertanya kepada pemilik kebun, “Wahai hamba Allah, siapakah namamu?” Ia menyebutkan sebuah nama yang pernah didengar oleh orang yang bertanya tersebut dari balik mendung. Kemudian pemilik kebun itu balik bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menanyakan nama saya?” Orang itu berkata, “Saya telah mendengar suara dari balik awan, ‘Siramilah tanah Si Fulan,’ dan saya mendengar namamu disebut. Apakah sebenarnya amalanmu (sehingga mencapai derajat seperti itu)?” Pemilik kebun itu berkata, “Karena engkau telah menceritakannya, saya pun terpaksa menerangkan bahwa dari hasil (kebun ini), sepertiga bagian langsung saya sedekahkan di jalan Allah swt., sepertiga bagian lainnya saya gunakan untuk keperluan saya dan keluarga saya, dan sepertiga bagian lainnya saya pergunakan untuk keperluan kebun ini.” (Muslim).

10. Dari Abu Hurairah r.a., Nabi saw. bersabda, “Seorang wanita pezina telah diampuni dosanya karena ketika dalam perjalanan, ia melewati seekor anjing yang menengadahkan kepalanya sambil menjulurkan lidahnya hampir mati karena kehausan. Maka, wanita tersebut menanggalkan sepatu kulitnya, lalu mengikatkannya dengan kain kudungnya, kemudian anjing tersebut diberi minum olehnya. Maka dengan perbuatannya tersebut, ia telah diampuni dosanya.” Seseorang bertanya, “Adakah pahala bagi kita dengan berbuat baik kepada binatang?” Beliau saw. menjawab, “Berbuat baik kepada setiap yang mempunyai hati (nyawa) terdapat pahala.” (Muttafaq ‘alaih)

Selasa, 22 Mei 2012

Menanam Kebaikan Feat Menanam Keburukan

Menanam Kebaikan
• Jika engkau menanam kejujuran, engkau akan menuai kepercayaan.
• Jika engkau menanam kebaikan, engkau akan menuai persahabatan.
• Jika engkau menanam kerendahhatian, engkau akan menuai keagungan.
• Jika engkau menanam kegigihan, engkau akan menuai kemenangan.
• Jika engkau menanam pertimbangan, engkau akan menuai keselarasan.
• Jika engkau menanam kemaafan, engkau akan menuai keberhasilan.
• Jika engkau menanam keterbukaan, engkau akan menuai kedekatan.
• Jika engkau menanam kesabaran, engkau akan menuai perbaikan.
• Jika engkau menanam keimanan, engkau akan menuai keajaiban.
Menanam Keburukan
• Jika engkau menanam kebohongan, engkau akan menuai ketidakpercayaan.
• Jika engkau menanam keegoisan, engkau akan menuai kesepian.
• Jika engkau menanam kesombongan, engkau akan menuai kehancuran.
• Jika engkau menanam kedengkian, engkau akan menuai permasalahan.
• Jika engkau menanam kekasaran, engkau akan menuai pengucilan.
• Jika engkau menanam ketamakan, engkau akan menuai kerugian.
• Jika engkau menanam prasangka, engkau akan menuai permusuhan.
• Jika engkau menanam kekhawatiran, engkau akan menuai ketuaan.
• Jika engkau menanam dosa, engkau akan menuai hukuman.
Semoga menjadi pelajaran dan bermanfaat.

Selasa, 15 Mei 2012

Ulasan BlackBerry Curve 9220: BlackBerry OS 7 Termurah Saat Ini

Semakin ketatnya persaingan di pasar smartphone, perkembangan sistem operasi otomatis juga semakin memanas. Tahun lalu, RIM mengeluarkan sistem operasi BlackBerry OS 7. Sayangnya sebelum munculnya BlackBerry Curve 9220 — yang juga dikenal dengan nama Davis — smartphone BlackBerry dengan OS 7 yang paling murah adalah Apollo atau Curve 9360 seharga Rp 3,2 juta.

BlackBerry Curve 9220 sendiri diprediksi akan laris di pasaran mengingat harganya yang paling rendah dibanding smartphone BlackBerry OS 7 lainnya. Seperti apa kinerjanya? Berikut hasil pengujian kami.

Desain
Tidak ada yang mengejutkan. Desain fisik Curve 9220 nyaris identik dengan Apollo (Curve 9360) dan Gemini (Curve 8520). Saya akan sering membandingkannya dengan Gemini, mengingat keduanya berada di kisaran harga yang sejajar. Keduanya memiliki ukuran yang amat mirip, hanya saja Curve 9220 memiliki bodi yang lebih tipis sekitar 1,2 mm. Bodi yang mengilap membuatnya rentan terhadap goresan, sama seperti Gemini.

BlackBerry Curve 9220

Perbedaan lebih terasa saat menggunakan keyboard QWERTY. Walaupun sekilas desain tombol keyboard sama, tapi keyboard Davis lebih nyaman dibandingkan Gemini 8520. Ukuran tombol dan jarak antar tombol yang pas membuat aktivitas mengetik dapat dilakukan dengan akurat dan tidak melelahkan.

Tombol akses cepat (shortcut key) yang disediakan mengalami sedikit perubahan. Jika di sisi kanan telah tersedia tombol pengatur volume dan kamera, kini di sisi kiri Anda akan menemukan tombol cepat untuk mengakses BBM (BlackBerry Messenger). Tombol yang terakhir itu tentunya amat berguna jika Anda sering menggunakan fasilitas chatting tersebut.

Fitur dan Kinerja
Mengingat ini adalah smartphone BlackBerry OS 7 versi GSM paling murah saat ini, spesifikasi yang diberikan juga tidak akan mengagetkan. Ada satu fitur baru yang tidak ditemukan di BlackBerry seri lainnya, yaitu radio FM. Sayangnya fitur ini sudah termasuk sangat umum dan sudah bisa ditemukan di ponsel seharga ratusan ribu rupiah.

Meskipun begitu, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Tampilan saat mengakses radio cukup sederhana. Fitur lainnya mencakup sensor accelerometer dan kompas serta pembaca dokumen. Fitur multimedia cukup standar dengan kemampuan memutar video dalam format MP4, .H263/.H264 serta file audio dalam format MP3, eAAC+, WMA, WAV dan FLAC. Tentunya untuk multimedia, Anda dapat menggunakan microSD card yang telah didukung sampai kapasitas 32GB.

Untuk mengabadikan momen, Curve 9220 dilengkapi kamera 2 MP tanpa autofokus dan flash. Dengan kamera ini, Anda juga bisa merekam video VGA (640 x480 piksel). Baik hasil kamera maupun video cukup standar, tapi cukup memadai jika sekadar dikirimkan via BBM atau email. Tetapi jika dibandingkan smartphone di kelas harganya, kinerja kamera dan videonya cukup tertinggal.

Bicara soal performa, BlackBerry Curve 9220 tergolong responsif, apalagi jika dibandingkan dengan Gemini 8520. Ini tentunya berkat peningkatan RAM yang kini mencapai 512MB, dua kali lipat lebih besar dari Gemini yang hanya 256MB. Mengakses berbagai fungsi, mulai dari browsing, kamera, BBM, galeri foto, Facebook, Twitter dan sebagainya, dapat dilakukan dengan lancar dan cepat.

Untuk kecepatan akses data, Curve 9220 masih mengandalkan GPRS dan EDGE yang memang cukup terbatas kecepatannya. Anda juga dapat menghubungkannya menggunakan Wi-Fi jika menemukan hotspot. Ini akan berguna untuk mempercepat aktivitas browsing atau download aplikasi dari BlackBerry App World.

Satu hal yang mengagumkan dari Curve 9220 adalah daya tahan baterai. Jika selama ini Anda mengeluhkan daya tahan baterai saat menggunakan BlackBerry, Curve 9220 dijamin akan membuat Anda kaget — dalam arti yang positif. Dalam kondisi penggunaan yang cukup normal untuk BlackBerry (aktivitas browsing, BBM, memotret dan push e-mail cukup aktif), Curve 9220 yang saya gunakan mampu bertahan sampai 15 jam dan belum "berteriak" minta diisi baterainya.

Bahkan saat akhir pekan dan tidak banyak aktivitas data yang dilakukan, Curve 9220 mampu bertahan 15 jam dengan kondisi baterai masih sekitar 30%. Perlu dicatat, saya berlangganan paket BlackBerry Internet Service Unlimited dengan 4 akun email aktif yang menarik lebih dari 100 email per hari. Sebenarnya daya tahan baterai ini tidak mengherankan karena Davis telah dilengkapi baterai berkapasitas 1450mAh, atau sekitar 30% lebih besar dibandingkan baterai Gemini.

Kesimpulan
BlackBerry Curve 9220 memang bukan smartphone yang paling canggih di kelas harganya. Kelebihan smartphone BlackBerry ini masih terletak pada BBM, push email serta layanan media sosial yang dimungkinkan oleh layanan BlackBerry Internet Service (BIS). BlackBerry Curve 9220 dipasarkan di kisaran harga Rp 1.999.000, cukup murah untuk jajaran ponsel BlackBerry GSM dan hanya sedikit lebih mahal dibandingkan Curve 8520 yang kini turun harga menjadi Rp 1.599.000.

Jika Anda membutuhkan sebuah smartphone yang handal untuk urusan chatting (Anda juga dapat menggunakan WhatsApp Messenger, Yahoo Messenger, Google Talk dan Windows Live), push e-mail serta social media, BlackBerry Curve 9220 layak dipertimbangkan. Namun jika tiga hal tersebut tidak menjadi prioritas Anda, masih banyak alternatif smartphone lain yang memiliki fitur lebih lengkap dengan harga setara.

Kelebihan
+ Kinerja responsif
+ Desain ergonomis dan ringan
+ Keyboard nyaman
+ Baterai tahan lama
+ Push e-mail masih yang terbaik di kelasnya
+ Fungsi chatting lengkap
+ Aplikasi Social Media mudah digunakan

Kekurangan
- Hasil kamera standar
- Harga cukup terjangkau tapi masih tergolong premium, jika ditilik dari spesifikasinya
- Bodi mengilap rentan tergores

Kristian Tjahjono, kontributor situs teknologi konsumen yangcanggih.com. Antusias terhadap berbagai jenis gadget, mulai dari komputer, ponsel, sampai kamera digital.

Minggu, 13 Mei 2012

Renungan buat aktivis Dakwah dan para orang penegak Agama Allah dan Umat Nabi Muhamad SAW


Bagaimana kabar Iman hari ini…
Dan..
Bagaimana dengan Hati…..?
Semoga Allah berikan
Ketetapan pada hati ini…
Untuk terus menyusuri jalan dakwah ini
Walau terkadang ….
Fitnahan…..
Hujatan…..
Cacian…..
Dan makian…
Sering kalai mewarnai…….
Perjalanan panjang ini…
Dan
Raga…
Jiwa….
Harta….
Dan air mata…
Telah kita persembahkan di jalan ini…
Hingga terkadang lelah dan jenuh….
Menghampir setiap jejak perjuangan…
Mengarungi jalan ini….
Sesungguhnya Allah telah membeli orang orang
Mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan..
Surga untuk mereka……….
Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh,
Dan siapkah yang lebih menepati janji dari pada Allah…
Maka mereka bergembira dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu,
Dan itulah kemenangan yang besar (QS At. Taubah :111)


SAUDARAKU………
Mari tanyakan pada hati kita
Pantaskah kita mengeluh…!
Dalam mengarungi jalan ini…
Karena hakekatnya………
Komitmen adalah sebuah totalitas perjuangan……..

DAKWAH INI…….
Ada atau tidak adanya kita di sana ..
Dakwah akan tetap di perjuangkan
NAMUN……..
Apakah syurganya tidak begitu menggiurkan untukmu……….?
Saudaraku……..
Mari kita tengok sejenak
Potret sebuah negeri
Di mana perjuangan …….
PENGORBANAN…….
TAK KENAL KATA LELAH
PALESTINA
Perjuangan ……
Pengorbanan……
Dan takbir……
Membaharu…….menggentarkan
Musuh musuh Allah……….!!!!
JIWA……..
NYAWA………
Dan air mata yang mulia terevaporasi…
Telah mereka persembahkan
Lebih …..dari yang kita PERSEMBAHKAN
Semuanya demi tegaknya Islam di muka bumi ini..!!
Dan menyelamatkan bumi
Para anabiya

Semua berlomba lomba, menjemput seni kematian yang paling indah..
Dan sesungguhnya …….mereka tidak mati…….!!!!
Mereka hidup di sisinya Allah SWT…
Bagai mana dengan kita………..?
Karya apa yang sudah dipersembahkan untuk DAKWAH INI…..?
Kami tak pernah tahu…
Harus sampai kapan jiwa raga ini harus di persembahkan…
Harus berapa deras dara ini harus di alirkan…
Harus sejahu mana kaki ini terus di langkahkan……..
Untuk membangun peradaban sebuah negeri yang Allah titipkan,
Namun jiwa raga ini, darah ini, kaki ini, tanpa jemu..
Ragu harus terus di serahkan
Hingga Allah kelak menggantinya…………..
Dengan ridho dan Syurganya nan indah dan penuh kedamaian…..


Andaikan Dakwah bisa tegak dengan seorang diri, tak perlu Nabi Musa mengajak Nabi Harun, tak perlu pula Rasulullah yang mulia mengajak Abu Bakar untuk menemaninya Hijrah, Meskipun pengemban Dakwah itu seorang yang alim dan Fiqih, memiliki azam yang kuat tetapi tetap saja ia seorang manusia yang lemah dan akan selalu membutuhkan saudaranya meskipun saudaranya itu memiliki banyak keterbatasan

..........MAKA...........
Jagalah dia jangan kau siakan saudaramu, apalagi engkau sakiti hatinya. karena ia sangat mahal harganya dan mungkin ialah yang selalu mendoakanmu dalam setiap langkah-langkahmu..


By : Moslemku Lilik Khoirudin, S. Kom

Rabu, 09 Mei 2012

TEGAR DI JALAN DAKWAH INI


Buku Tegar di Jalan Dakwah adalah karya Ust. Cahyadi Takariawan setelah Buku Menyongsong Mihwar Daulah . Tampaknya dua buku ini sengaja ditulis oleh Ust. Cahyadi Takariawan di akhir mihwar muassasi ini –biidznillah- sebagai kontribusi beliau kepada jamaah dakwah dan segenap aktivisnya agar benar-benar siap saat memasuki mihwar daulah nanti. Jika pada bukuMenyongsong Mihwar Daulah tertera sub judul Mempersiapkan Kader-Kader Dakwah Menjadi Pemimpin Negara, maka pada buku Tegar di Jalan Dakwah ini dicantumkan sub judul: Bekal Kader Dakwah di Mihwar Daulah.

Sebagaimana tulisan beliau pada buku Menyongsong Mihwar Daulah : Masing-masing orbit saling berhubungan dengan yang lain secara sinergis, dan logika yang digunakan dalam konteks kesinambungan antarorbit ini bukanlah ‘meninggalkan’, melainkan ‘menambah’ dan kesadaran beliau akan: kelemahan dalam sebuah orbit berdampak panjang pada kelemahan di dalam orbit yang lain, maka buku Tegar di Jalan Dakwah bukan saja untuk membekali kader dakwah ketika berada di mihwar daulah nanti tetapi juga sebagai langkah antisipasi yang harus dimulai sejak saat ini.

Buku Tegar di Jalan Dakwah ini membahas empat hal besar yang masing-masing dijelaskan dalam bab tersendiri: problematika internal aktivis dakwah, problematika eksternal dakwah, daya tahan di medan dakwah, dan yang tegar di jalan dakwah. Meskipun judulnya problematika, bab 1 dan bab 2 juga mencantumkan solusi pada setiap problematika yang muncul. Solusi pada bab 1 lebih detail dan bersifat aplikatif karena menyangkut permasalahan internal kader, sementara solusi pada bab 2 lebih bersifat global terkait langkah apa yang perlu diambil oleh jamaah dakwah. Bab 3 berisi langkah-langkah sistematis “membangun” dan “menjaga” daya tahan di medan dakwah. Sedangkan bab 4 banyak berisi contoh-contoh dai atau jamaah dakwah yang tegar menghadapi beragam mihnah.

Problematika Internal Aktivis Dakwah
Pembahasan probelmatika internal lebih didahulukan dari pada pembahasan problematika eksternal karena problem terberat bagi semua jamaah dakwah adalah kendala internal. Ketika problematika internal sudah diselesaikan/dikelola dengan baik, maka amanah dakwah lebih mudah ditunaikan dan problematika eksternal lebih mudah diselesaikan.

Problematika internal yang sering dijumpai dalam jamaah dakwah adalah gejolak kejiwaan, ketidakseimbangan aktifitas, latar belakang dan masa lau, penyesuaian diri, dan friksi internal.

Gejolak kejiwaan sebenarnya merupakan persoalan yang dimiliki oleh semua manusia biasa. Dan yang perlu disadari adalah para aktivis dakwah juga manusia biasa. Gejolak ini tidak bisa dimatikan sama sekali, tetapi perlu dikelola dengan baik agar tidak merugikan dakwah dan aktifis dakwah.

Diantara gejolak kejiwaan itu adalah: Pertama, gejolak syahwat. Banyak orang yang terpeleset oleh gejolak ketertarikan pada lawan jenis ini. Bagi mereka yang belum menikah, gejolak ini biasanya lebih besar dan lebih berpeluang “menggoda.” Kedua, gejolak amarah. Seperti kisah Khalid saat menghadapi Jahdam dan pemuka bani Jazimah, gejolak amarah ini bisa berakibat fatal termasuk bagi citra dakwah, hubungan antar aktifis dakwah, dan terjadinya fitnah diantara kaum muslimin. Ketiga, gejolak heroisme. Semangat heroisme memang bagus dan sangat perlu, tetapi ketika sudah tidak proporsional ia akan mendatangkan sikap ekstrem yang berbahaya bagi kemaslahatan dakwah dan umat. Kasus pembunuhan terhadap Nuhaik yang dilakukan Usamah bin Zaid adalah contohnya.Keempat, gejolak kecemburuan. Seperti kecemburuan Anshar pada para mualaf yang mendapatkan hampir semua ghanimah perang Hunain, sikap ini bisa berefek pada melemahnya soliditas internal jamaah. Meskipun yang dicemburui oleh Anshar sebenarnya adalah perhatian Rasulullah dan bukan materi ghanimah-nya, gejolak ini segera diselesaikan Rasulullah karena jika dibiarkan bisa berdampak negatif.

Ketidakseimbangan aktifitas juga menimbulkan problematika tersendiri. Ketidakseimbangan antara aktifitas ruhaniyah dengan aktifitas lapangan, ketidakseimbangan antara dakwah di dalam dengan di luar rumah tangga, ketidakseimbangan antara aktifitas pribadi dengan organisasi, ketidakseimbangan antara amal tarbawi dengan amal siyasi, ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas dengan kuantitas SDM; semuanya bisa berakibat negatif. Tawazun atau kesimbangan yang merupakan asas kehidupan, juga harus dipraktikkan dalam kehidupan berjamaah dan oleh semua aktifis dakwah.

Latar belakang dan masa lalu aktifis yang buruk bisa pula menjadi problematika internal dakwah jika tidak dilakukan langkah-langkah solutif. Latar belakang keagamaan keluarga, misalnya. Ia bisa berbentuk lemahnya tsaqafah Islam, tekanan keluarga yang menentang aktifitas dakwah, dan kerancuan dalam orientasi kehidupan. Sedangkan masa lalu yang “jahiliyah” bisa membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi kredibilitas sang aktifis dakwah. Solusi atas problem ini terangkum dalam kata “mujahadah.” Bagaimana seorang aktifis melakukan muhasabah, menyadari kelemahannya dan melakukan perbaikan diri. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi pengaruhnya bisa dikendalikan.

Problematika internal yang keempat adalah penyesuaian diri. Yakni penyesuaian diri terhadap karakteristik pendekatan dan sikap dakwah yang melekat pada masing-masing marhalah dan orbit dakwah. Sebagaimana corak dakwah yang berbeda antara fase Makkiyah dan Madaniyah, bahkan masa sirriyah dan jahriyah pada fase Makkah yang juga berbeda, dakwah saat ini juga mengalami hal yang sama; ada tahap-tahapnya. Antara mihwar tanzhimi yang berkonsentrasi pada konsolidasi internal dan mihwar muassasi yang konsen pada perjuangan politik membuat beberapa kader dakwah tidak mampu menyesuaikan diri. Hambatannya bisa karena sifat “kelambanan” kemanusiaan, kecenderungan jiwa, keterbatasan dan perbedaan tsaqafah, sampai keterbatasan kapasitas. Untuk mengatasi problem ini dibutuhkan peran kelembagaan dakwah. Jamaah dakwah perlu melakukan persiapan perubahan fase dakwah, mensosialisasikan cara pandang yang disepakati tentang batas-batas pengembangan dakwah sehingga jelas mana yang termasuk pengembangan (tathwir) dan mana yang termasuk penyimpangan (inhiraf). Jamaah dakwah juga harus mendefinisikan mana yang asholah dan tsawabit, serta mana yang mutaghayyirat.

Problem internal kelima adalah friksi internal. Friksi ini bisa timbul dari lingkungan yang kecil seperti intern sebuah lembaga dakwah, atau antarlembaga, atau antarpersonal pendukung dakwah. Banyak gerakan dakwah yang harus tutup usia dan kini tinggal nama karena problematika ini. Friksi dalam sejarah dakwah memberi beberapa pelajaran penting bagi kita: bahwa friksi merupakan indikasi kelemahan proses tarbiyah, friksi menandakan adanya kelemahan dalam penjagaan diri para aktifis dakwah, restrukturiasi dakwah tepat dilakukan terhadap orang-orang yang telah memahami karakter dakwah itu sendiri, friksi juga bukti keberadaan ego manusia, penumbuhan al-wa’yul islami(kesadaran berislam) dan al-wa’yu ad-da’awi (kesadaran dakwah) lebih utama dibandingkan sekedar meletupkan hamasah (semangat) bergerak, dan sangat mungkin friksi timbul karena hadirnya pihak ketiga yang sengaja “memecah” jamaah.

Problematika Eksternal Dakwah
Problematika eksternal dakwah yang bisa menjadi bahaya besar bagi kebaikan bangsa dan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam meliputi problematika spiritual dan kultural, problematika moral, dan problematika sistemik.

Diantara problematika dakwah di Indonesia yang menyangkut aspek spiritual dan kultural adalah: berhala-berhala modern baik berupa teknologi yang dijadikan rujukan kebanaran, sains yang diabsolutkan, materi yang ditaati, maupun kekuasaan yang dipuja-puja; syirik, khurafat dan tahayul yang masih merebak di masyarakat; globalisasi dan dialektika kultural; serta tradisi baik yang sudah tergerus dan tergantikan dengan budaya negatif efek perkembangan peradaban.

Problematika moral diantaranya adalah minuman keras dan penyahgunaan obat-obatan, penyelewenangan seksual, perjudian dan penipuan, serta tindakan brutal dan kekerasan.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan problematika sistemik adalah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kemiskinan, kebodohan, dan ancaman disintegrasi bangsa.

Daya Tahan di Medan Dakwah
Dakwah yang merupakan jalan panjang dan lintas generasi niscaya memerlukan daya tahan yang permanen. Bagi, individu kader dakwah daya tahan ini jug harus dimiliki agar tetap istiqamah sampai mengakhiri sejarah kehidupannya dengan husnul khatimah. Untuk itu, paling tidak ada lima faktor yang perlu dimiliki para aktifis dakwah untuk merealisir daya tahan di medan dakwah: menguatkan dan membersihkan motivasi, menggapai derajat iman, menggandakan kesabaran, kekuatan ukhuwah, dan dukungan soliditas struktur.

Untuk menguatkan dan membersihkan motivasi kita perlu selalu memahami makna ikhlas dan berupaya mencapainya dengan jalan: senantiasa memperbaharui niat, berusaha keras menunaikan kewajiban, berusaha keras mewujudkan kecintaan kepada Allah, merasakan pengawasan Allah, dan hati-hati dalam beramal.

Untuk mencapai derajat iman kita perlu : memiliki orientasi rabbani, yakni menjadikan seluruh aktifitas selalu berorientasi kepada Allah, dan sebaliknya, berhati-hati terhadap orientasi duniawi. Jika kita mampu mencapai derajat iman ini, maka Allah menjanjikan kemenangan atas musuh, jaminan bahwa orang-orang kafir takkan menguasai, mendapatkan izzah, mendapatkan kehidupan dan rezeki yang baik, menjadi khalifah di muka bumi, serta mendapatkan surga di akhirat nanti.

Untuk bisa menggandakan kesabaran kita perlu memberikan dorongan jiwa untuk mengejar dengan sungguh-sungguh faedah-faedah yang ditimbulkan oleh kesabaran, dan betapa besar buahnya bagi agama dan keduniaan kita serta melawan pengaruh hawa nafsu. Jika kesabaran telah kita miliki maka kita akan mendapatkan hikmahnya yang luar biasa: dijadikan pemimpin, pahala yang besar, kebersamaan Allah, dan mendapatkan berbagai macam kebaikan karena sabar.

Untuk membangun ukhuwah kita perlu memotivasi diri dengan keteladanan ukhuwah di zaman kenabian lalu memperbaiki hubungan sesama aktifis dakwah berlandaskan cinta dan kasih sayang. Kita juga harus meminimalisir penghambat-penghambat ukhuwah. Jika kekuatan ukhuwah ini terbangun kokoh, maka daya tahan kita sebagai aktifis dakwah maupun daya tahan jamaah di medan dakwah akan semakin kokoh.

Sedangkan upaya membangun soliditas struktur paling tidak meliputi konsolidasi manajerial dan konsolidasi operasional. Konsolidasi manajerial dilakukan dengan penataan manajemen yang bagus dan profesional dalam setiap jalur dan lini. Selain mengambil prinsip-prinsip dari Al-Qur'an dan Hadits, prinsip manajemen modern juga bisa diterapkan. Konsolidasi operasional dimaksudkan untuk menyinkronkan berbagai kegiatan dalam skala gerakan, sekaligus senantiasa mengarahkan gerak dakwah kepada tujuan yang ditetapkan. Selain itu, untuk membangun soliditas struktur perlu menghindari hal-hal yang bisa merusaknya yaitu munculnya sekat komunikasi dan lemahnya imunitas struktural (mana'ah tanzhimiyah).

Yang Tegar di Jalan Dakwah
Jalan dakwah ini pasti dipenuhi dengan beragam kesulitan, hambatan, rintangan, tribulasi. Para aktifisnya akan berhadapan dengan beragam mihnah, sebagaimana para dai generasi sebelumnya sejak Rasulullah dan para shahabatnya, tabi'in, tabiut tabi'in, dan seterusnya.

Diantara mihnah itu ada yang berupa ejekan, gelombang fitnah, teror fisik, manisnya rayuan, tekanan keluarga, keterbatasan ekonomi, kemapanan, sampai kekuasaan. Kader dakwah harus tegar dalam menghadapi semua mihnah itu.

Agar tegar dalam menghadapi ejekan, sadarilah bahwa ejekan kepada Rasulullah jauh lebih hebat; maka biarkan saja semua orang mengejek, tidak perlu diladeni. Agar tegar dalam menghadapi fitnah, tetaplah bekerja dan beramal maka umat akan tahu siapa yang benar dan siapa yang tukang fitnah. Agar tegar dalam menghadapi teror fisik, tawakallah kepada Allah dan berdoalah senantiasa, di samping persiapan lain yang juga perlu dilakukan oleh struktur dakwah. Agar tegar dalam menghadapi manisnya rayuan, jagalah keikhlasan dan senantiasa memperbarui niat, waspada dan tetap bersama jamaah. Agar tegar dalam menghadapi tekanan keluarga, ketegasan harus diutamakan . Iman tidak bisa ditukar dengan keluarga, jika memang itu pilihannya. Agar tegar dalam kondisi kekurangan/keterbatasan ekonomi, bersabar adalah kuncinya. Kekuatan ukhuwah sesama aktifis dakwah juga berperan penting untuk menjaga kita tetap tegar. Agar tegar dalam kemapanan harus memiliki paradigma semakin banyak kekayaan, semakin banyak kontribusi bagi dakwah. Maka yang diteladani adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Agar tegar di puncak kekuasaan, kelurusan orientasi perjuangan, ketaatan pada manhaj dakwah Rasulullah dan keyakinan akan janji-jani-Nya. Dan pada semua mihnah, kedekatan dengan Allah dan tawakkal kepada-Nya merupakan kunci utama agar tegar di jalan dakwah! [Muchlisin]

Kamis, 03 Mei 2012

Buah Kesabaran

Secara tak sengaja Angkasa melihat Embun sedang jalan berdua dengan seorang pria yang seumuran dengannya di sebuah pusat perbelanjaan. Beberapa kali ia mengucek matanya hanya untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah lihat. Tampak oleh matanya Embun begitu sumringah berjalan beriring dengan pria itu. Benar, Angkasa tidak salah lihat. Itu benar Embun, saudara sepupunya yang cukup dekat dengannya. Sayangnya, Embun tidak menyadari kehadiran Angkasa yang saat itu tengah mengamatinya.

Angkasa tidak mengenal siapa pria di samping Embun. Selama ini Angkasa kenal betul siapa saja yang menjadi teman Embun. Mulai dari teman kerja, teman mengaji hingga teman rumahnya. Karena memang rumah Angkasa dan Embun bersebelahan.

Angkasa tidak langsung menyapa Embun seketika itu juga. Ia tidak mau langsung membuat Embun malu jika ia melabraknya langsung. Angkasa berusaha tetap berfikir positif.

***

Sepulangnya Angkasa dari pusat perbelanjaan, ia terus saja memikirkan apa yang baru saja dilihatnya. Ia seolah tak percaya. Sebelum pulang ke rumahnya, Angkasa sengaja mampir ke rumah Pakde Ahmad, ayah Embun.

“Assalamu’alaikum Pakde.” Sapa Angkasa.

Pakde Ahmad yang kala itu sedang serius menyelesaikan pekerjaannya sebagai tukang servis elektronik, menoleh. “Wa’alaikumussalaam. Eh kamu Sa. Ayo masuk. Bude-mu sedang membuat pisang goreng kesukaanmu.”

“Iya Pakde terima kasih.” Kata Angkasa sambil berjalan masuk ke dalam rumah Embun.

Didapatinya Bude Fatma sedang sibuk menggoreng di dapur mungilnya.

“Hmmm… Baunya enak sekali nih Bude. Bikin perut Asa mendadak lapar.” Asa mendekati Budenya dan langsung mengambil posisi sejajar di sebelahnya.

“Asa, tau saja kamu Bude sedang membuat makanan kesukaanmu. Tuh, ada yang sudah matang di meja. Kamu ambil saja ya.”

Asa mendekati meja dan mengambil sepotong pisang goreng yang benar-benar menggugah selera dan memakannya dengan lahap.

“Oh iya Bude, Embun kok tidak kelihatan. Dia ke mana?” Tanya Angkasa sambil mengunyah pisang gorengnya.

“Embun dari tadi siang pergi. Katanya mau cari buku.”

“Sama siapa Bude?”

“Bude tidak tahu Sa. Soalnya dari rumah Embun pergi sendiri dan dia tidak bilang juga kalau mau pergi sama siapa.”

Angkasa langsung terdiam. Dengan siapa Embun tadi.

***

Usia Angkasa dan Embun hanya berbeda dua tahun. Sejak kecil mereka bermain bersama. Ayah Embun adalah kakak dari ibu Angkasa. Dari SD hingga SMU sekolah mereka sama. Angkasa ingat zaman SMU adalah masa Embun berhijrah. Waktu itu, Embun kelas 1 SMU dan Angkasa sudah menginjak kelas 3. Angkasa ingat betapa nakalnya Embun saat SMP, dia sudah kenal yang namanya laki-laki. Embun memang memiliki paras yang manis dan perangainya yang mudah bergaul. Jadi tidak heran jika banyak yang tertarik dengannya. Masalahnya Embun masih teramat kecil, pikirannya masih belum jernih. Orang tuanya sering mengingatkan hati-hati bergaul dengan laki-laki, Embun menurut. Tapi jika ada teman lelakinya yang mengajak pergi, ia tidak akan menolak. Itu dilakukannya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.

Biasanya, akulah yang sering memergoki Embun berduaan dengan teman lelakinya. Embun seringkali memohon untuk tidak melaporkannya kepada orang tuanya. Embun takut jika ayahnya tahu, maka penyakit jantungnya akan kambuh.

Yang Angkasa heran, Embun tidak pernah sungguh-sungguh memperhatikan penyakit ayahnya. Berkali-kali Angkasa memergoki dan berkali-kali Angkasa selalu menasihati. Tapi Embun hanya bilang iya, iya tidak akan diulangi. Dan besoknya. Angkasa kembali melihat Embun berkelakuan sama.

“Apakah Embun kembali seperti dahulu?” Angkasa menerawang.

“Aah… semoga saja tidak.” Angkasa kemudian mencoba menetralkan pikirannya.

Memasuki SMU, Embun perlahan berubah. Mungkin karena pergaulannya kini telah berubah. Angkasa mengusulkan kepada ayah Embun untuk memasukkan Embun di sekolah yang sama dengannya, agar bisa menjaga Embun-alasannya.

Angkasa juga yang memperkenalkan Embun kepada kegiatan Rohis dan kepada kawan-kawan perempuan Angkasa yang mayoritas berjilbab dan berakhlaq baik, insya Allah. Alhamdulillah, Embun bukanlah anak yang keras kepala, sehingga ia sangat terbuka dengan segala masukan yang baik. Meskipun jiwanya masih sedikit labil. Paling tidak itu menjadi langkah awal yang baik untuk menjaga Embun tetap berada di jalur yang benar.

Ternyata pergaulan yang baik sangat berpengaruh untuk Embun. Kini, Embun telah memakai jilbab. Bukan hanya sekedar penutup kepala, tetapi jilbab yang benar-benar memenuhi syari’at. Pergaulan dengan lawan jenis pun, sudah mengurangi penurunan yang sangat drastis dibanding dulu. Benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat dibanding ketika Embun SMP.

“Embun, sekarang kamu sudah jarang banget jalan sama teman lelakimu?” Tanya Angkasa iseng.

“Hehehe. Iya donk Mas. Aku sekarang mau jadi wanita shalihah, wanita yang mahal yang tidak mudah tersentuh oleh lawan jenis. Biar Allah sayang sama aku dan nanti ketika aku menikah, aku bisa mendapatkan lelaki yang shalih Mas. Jadi aku mau jaga jarak.” Jawab Embun

“Pintar kamu sekarang. Tidak percuma Mas ajak kamu gabung sama Rohis.”

“Terima kasih Mas. Sekarang aku jadi lebih paham mengenai pergaulan antar lawan jenis. Doakan aku Mas, supaya tetap istiqamah.”

“Insya Allah dek.”

***

Menjelang pukul sembilan dilihatnya Embun baru pulang. Ia ingin langsung bertanya mengenai apa yang dilihatnya tadi siang.

“Baru pulang Bun, dari mana?” Embun yang saat itu akan makan, terkejut.

“Mas Asa, kapan pulang?” Wajah Embun seketika mengembangkan senyum terlebarnya. Memang semenjak lulus sekolah, Asa memutuskan kuliah di kota lain. Dan berlanjut hingga ia bekerja.

“Kemarin malam. Tapi kamu sudah tidur saat Mas pulang dan tadi pagi-pagi sekali Mas ada janji dengan teman. Makanya kita baru ketemu sekarang.”

“Oh, iya. Pertanyaan Mas belum kamu jawab. Kamu dari mana kok jam segini baru pulang?”

“Mas ini. Dari dulu tidak berubah. Selalu saja khawatir kalau aku pulang malam. Padahal baru jam sembilan. Tadi aku dari toko buku Mas. Ada yang dicari.”

“Ooh gitu. Sama siapa dek?” Angkasa penasaran dengan jawaban Embun.

“Sama siapa ya?” Embun malah membalasnya dengan candaan.

“Kamu kok ditanya bukannya dijawab, malah begitu Bun?”

“Lagian Mas juga. Datang-datang bukannya tanya kabar Embun bagaimana. Pekerjaan Embun bagaimana. Embun juga belum tanya keadaan Mas bagaimana. Eeh malah Embun seperti diinterogasi seperti ini.”

“Iya maaf Bun. Langsung aja ya.” Air muka Angkasa terlihat serius.

“Ada apa Mas? Kok tiba-tiba serius?” Embun penasaran.

“Begini, tadi siang Mas melihat kamu di pusat perbelanjaan. Tapi Mas lihat kamu tidak sendiri. Kamu berdua dengan lelaki. Dan Mas tidak tahu dia siapa.”

Embun tersenyum.

“Apa ada sesuatu yang Mas belum ketahui dari kamu Bun?”

“Iya Mas ada.”

“Maksudnya?”

“Mas janji ya jangan cerita ke siapa pun termasuk keluarga jauh kita.”

“Hmm… Insya Allah dek.”

“Sebenarnya yang Mas lihat tadi siang itu suamiku. Maaf jika Mas tidak mengetahui pernikahan kami, karena Embun tidak mau merepotkan Mas yang saat ini sedang dalam pendidikan di kantor. Apalagi jaraknya juga lumayan kalau Mas harus pulang.”

“Memang sengaja aku merahasiakan pernikahanku. Karena suamiku sedang dalam masa percobaan di kantornya dan tidak memperbolehkan karyawannya untuk menikah dahulu dalam rentang waktu enam bulan. Baru dua minggu kami menikah dan waktu itu hanya dihadiri keluarga dekat saja Mas.”

“Alhamdulillah, ternyata aku berpikir benar untuk tidak berprasangka buruk dulu.” Angkasa mengelus dada, merasakan kelegaan yang sangat. Meskipun sebenarnya, ia telah dilangkahi menikah oleh adik sepupunya.

“Jadi kalian belum tinggal bersama?”

“Belum Mas.”

Tergambar kebahagiaan di wajah Embun. Sesuatu yang dia nantikan, kini telah ia jalani.

***

Angkasa masih teringat ketika dua tahun lalu ia pulang. Saat itu usia Embun 23 tahun. Usia dimana perempuan sedang ingin dicintai dan mencintai. Dan Embun mengalami hal yang sama.

“Mas, aku siap nikah. Bisa minta bantu mencarikan?” Tanya Embun kala itu.

“Kamu sudah minta sama Guru Mengajimu?” Angkasa balik bertanya.

“Sudah Mas, tapi belum ada tanggapan. Lagipula beliau terbuka kok. Jika memang dari Mas ada calon, nanti aku akan cerita ke Guruku.”

“Saat ini Mas belum ada calon untukmu, karena teman dekat Mas belum ada yang menyampaikan keinginan untuk menikah dalam waktu dekat.”

“Ya udah Mas tidak apa. Mungkin nanti Mas bisa kabari aku jika ada yang sudah siap.”

***

Embun. Adik sepupuku yang kusayang. Aku dan Embun sama-sama anak tunggal dan secara otomatis kami menjadi dekat. Meskipun kami berada di kota berbeda tetapi komunikasi antara kami tetap lancar. Meskipun tentang masalah pernikahannya, dia tidak mengabariku. Tapi aku sangat mengetahui mengenai proses pencarian Embun akan imam yang kelak menjadi pemimpinnya. Namun dengan lelaki yang kini menjadi suaminya kini, Embun belum pernah bercerita.

Proses pencariannya tidak bisa dibilang mudah. Beberapa kali mencoba berta’aruf tapi belum satu pun yang berhasil dilakukannya. Ketika ada info mengenai lelaki yang siap menikah dan lelaki itu diceritakan mengenai Embun secara garis besar, tiba-tiba saja pihak lelaki enggan meneruskan dengan alasan yang tidak jelas. Aku pun tidak tahu, dengan suaminya kini dia telah menjalani proses ta’aruf berapa kali.

Embun selalu berusaha berfikir positif. Walau yang aku tahu, keinginan dia untuk menyempurnakan setengah agamanya begitu kuat. Tapi dia yakin, akan indah pada waktunya dan setiap manusia pasti ada jodohnya. Juga seseorang yang baik pasti akan mendapatkan yang baik pula. Begitulah cara Embun berusaha menguatkan diri.

Meski Embun harus melihat satu persatu teman dekatnya mengirim undangan pernikahannya atau saat mendengar teman sebayanya telah melahirkan anak pertamanya atau ketika ada kumpul-kumpul bersama teman-temannya dan dia lihat ada temannya yang membawa pasangannya. Sebagai wanita normal, jelas ia ingin merasakan juga. Dia juga pernah sedih akan hal itu. Akulah yang selalu menjadi tempat curhat Embun setelah Allah tentunya.

Yang aku salut dari Embun adalah keinginannya untuk tetap mempertahankan kesabarannya untuk terus menunggu hari pernikahannya tanpa disertai oleh proses pacaran sebelumnya. Ia tidak ingin Allah tidak ridha akannya. Dengan wajah yang manis, bisa saja ia memancing teman lelakinya untuk menyukainya dan mendekatinya. Tetapi itu tidak dilakukan Embun. Justru sebelum ku tahu ia menikah, Embun lebih menjaga jarak dengan teman-teman lelakinya dan mengurangi interaksi dengan lawan jenis. Ia tidak ingin kesalahan masa lalunya untuk berpacaran terulang. Cukup masa lalu menjadi pelajaran berharga. Ia berusaha untuk menjaga hatinya untuk tidak lagi tergelincir kepada yang bukan haknya.

Dan jika kini ia menikah. Adalah pasti buah dari kesabarannya selama ini yang kutahu tidak mudah bagi seorang wanita menahan perasaannya. Doaku yang terbaik untukmu dek. Semoga kamu bisa mengemudikan rumah tanggamu hanya dalam naungan ridhaNya. Aamiin.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/05/19847/buah-kesabaran/#ixzz1tsWPqZwk