Selasa, 26 Juni 2012

Keutamaan Ramadhan (Taujih Hasan Al Banna)


Ramadhan 1433 H sebentar lagi akan tiba. Agar kita semangat dan siap menyambutnya, motivasi mengenai Keutamaan Ramadhan patut untuk kita pahami bersama. Berikut ini taujih Hasan Al Banna bertema Keutamaan Ramadhan yang beliau sampaikan dalam forum Hadits Tsulatsa:

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat. Amma ba'du. Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Ikhwan sekalian, ini adalah malam yang agung lagi mulia. Kita sedang berada di dalamnya dan menikmatinya karena ia adalah wahana bersatunya hati yang saling menolong dalam ketaatan kepada Allah dan dalam rangka mencari ridha Allah. Saya tidak melupakan sentuhan yang tampak di hadapan saya, menggetarkan perasaan saya, dan mempengaruhi jiwa saya.

Kemarin saya berjalan-jalan bersama seorang akh. Kami memperbincangkan hal-hal biasa dan umum. Di sela-sela pembicaraan, akh ini mengingatkan bahwa sekarang hari Senin, dan besok hari Selasa. Sungguh menggembirakan dan mengesankan, ketika ia berbicara mengenai perasaan aneh yang muncul pada dirinya. Dengan bersahaja dan nada datar, ia berkata, "Saya sering menghitung-hitung kedatangan malam tersebut karena kerinduan untuk berjumpa dengan saudara-saudara saya." Kemudian ia melanjutkan perkataannya, "Sekarang saya mengeahui hikmah hari Jum'at dan shalat Jum'at, yang banyak di antara kaum muslimin tidak memperhatikan rahasianya. Andaikata mereka serius memperhatikan hari Jum'at dan shalat Jum'at, tentu keadaan mereka tidak sebagai mana sekarang. Ketika mewajibkan pertemuan-pertemuan ini, Islam melihat tujuan-tujuan luhur di dalamnya yaitu pertemuan jiwa dan hati yang ikhlas pada hari Jum'at untuk melaksanakan shalat Jum'at. Sayangnya, manusia melaksanakan shalat Jum'at sekedar sebagai pelaksanaan kewajiban, yang barangsiapa telah melaksanakannya, gugurlah kewajiban tersebut darinya dan barangsiapa belum melaksanakannya maka ia mendapatkan hukuman. Adapun hikmah yang ada di balik itu telah dilupakan oleh kaum muslimin sehingga pertemuan hari Jum'at menjadi sebuah pertemuan reflek saja, dan hanya tempat berjumpa secara fisik, selanjutnya bubar, sedangkan jiwa mereka tidak berjumpa dan hati mereka tidak bersatu."

Akh tersebut mulai berbicara panjang lebar, sedangkan saya sedikit kurang perhatian terhadap pembicaraannya, karena ia telah menghujani saya dengan dua sentuhan. Pertama, kegembiraan karena kaum muslimin mulai mengetahui faedah pertemuan ini, yaitu pertemuan hati dan jiwa. Inilah yang menggembirakan dan membahagiakan saya, sekaligus membuat saya kurang memperhatikan isi pembicaraannya.

Kedua, saya khawatir jika waktu berlalu terlalu lama sementara mereka belum juga mengetahui hikmah tersebut, sehingga mereka memahami Selasa hanya sebagai hari pelajaran, melupakan hikmah di balik itu yaitu tolong-menolong dalam rangka menggapai ridha Allah SWT.

Kita memohon kepada Allah SWT agar mempertemukan kita di dalamnya atas landasan cinta karena-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa.

Ikhwan sekalian, saya pandang bahwa saya perlu mengingatkan masalah Ramadhan, karena kita berada di ambang pintu Ramadhan dan hampir menyibukkan diri dalam kewajiban-kewajiban kita di dalamnya. Ramadhan adalah bulan barakah, rahmat, dan kebahagiaan. Betapa perlunya manusia merenung sejenak untuk bersiap-siap menyambutnya berikut kebaikan-kebaikan yang dikandungnya. Ia merupakan bulan yang dihormati di masa jahiliah, dan ketika Islam datang semakin dihormati dan dimuliakan. Di bulan ini Allah menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia. Betapa perlunya kita menenangkan dan menyadarkan jiwa tentang hak Ramadhan sebelum menjumpainya.

Ikhwan sekalian, Allah SWT menjadikan bulan ini sebagai bulan yang agung, memberikan keistimewaan yang banyak sekali kepadanya, serta menjadikannya sebagai salah satu fase kehidupan yang paling berharga dan salah satu stasiun perjalanan di atas jalan hidup yang lurus. Pada bulan itu seorang muslim mencurahkan sebagian besar perhatiannya kepada Allah, akhirat, dan peningkatan ruhani sebelum peningkatan materi. Ia adalah bulan ruhani, bulan kebersihan jiwa, bulan munajat, serta waktu untuk menghadap kepada Allah, memohon pertolongan dari Yang Mahatinggi lagi Mahabesar, dan menjalin hubungan dengan Al-Mala'ul A'la.

Ia adalah bulan yang mempunyai keistimewaan.


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur. (QS. Al-Baqarab: 185)

Ada pemancing perhatian yang indah dan kenikmatan yang luar biasa, yaitu dihubungkannya kandungan ayat ini dengan ayat yang lain.


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)

Kemudian ayat ini dilanjutkan lagi dengan ayat lain:


أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian; mereka itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. (QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat mulia ini datang di sela-sela hukum-hukum puasa.


كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian. (QS. Al-Baqarah: 183)

Kemudian,


أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian. (QS. Al-Baqarah: 187)

Dengan serasi dan sempurna ayat ini berhubungan dengan ayat puasa. Kemudian di antara keduanya Allah SWT mendat angkan ayat lain.


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku. (QS. Al-Baqarah: 186)

Hakikat agung yang terkandung di dalamnya adalah bahwa Allah SWT mendorong kita untuk bermunajat dan memohon kepada-Nya pada saat jiwa dalam keadaan paling dekat kepada Rabb-Nya.


لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS. Al-Baqarah: 186)

Bulan Ramadhan adalah bulan permohonan, munajat, hidayah, dan petunjuk kebenaran. Hendaklah orang yang berpuasa menggembleng diri di dalamnya dan menjauhkannya dari urusan materi, agar kemanusiaannya meningkat dan bersambung dengan Rabb-nya.

Banyak hadits yang menarik manusia agar memperhatikan keutamaan bulan ini, ketinggian kedudukannya, kemuliaan hari-harinya, dan besarnya nilai taubat di dalamnya, sehingga memacu kaum muslimin untuk menyiapkan diri menjumpainya serta menyadari bahwa perniagaan di dalamnya pasti mendatangkan keuntungan. Waktu-waktu yang akan berlalu di dalamnya sangat berharga, dan kesempatan yang ada merupakan kesempatan emas.

"Wahai pencari kejahatan berhentilah
dan wahai pencari kebaikan kemarilah!"

Hendaklah kaum muslimin mengingatkan diri mereka dengan sabda beliau SAW:

Tiada hari yang merekah fajar padanya kecuali berseru, 'Hai anak Adam, aku adalah makhluk baru yang menyaksikan amal perbuatan-mu. Maka ambillah bekal dariku, karena aku tidak akan kembali sampai hari kiamat."

Ikhwan sekalian, hendaklah Anda benar-benar berusaha agar tidak ada waktu yang berlalu tanpa amal shalih. Jika Anda lalai, hendaklah kalian segera menyadari kelalaian Anda. Suatu ketika Hanzhalah ra. menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq ra., dan berkata, "Abu Bakar, saya melihat keadaanku sebagaimana keadaan orang-orang munafik." Abu Bakaf lnenjawab, "Mengapa?" Hanzhalah berkata, "Bukankah ketika bersama Rasulullah SAW ruh kita menjadi lembut dan jiwa kita meningkat, tetapi jika kita meninggalkan beliau keadaan menjadi berubah-ubah?" Maka Abu Bakar berkata, "Marilah kita datang kepada Rasulullah SAW!" Nabi SAW bersabda, "Andaikata keadaanmu sebagaimana ketika di hadapanku, niscaya para malaikat akan menjabat tanginmu. Tetapi, sewaktu-waktu."

Jadi, terapi atas kelengahan adalah mengingat-ingat, introspeksi diri, dan senantiasa menjalin hubungan dengan Allah SWT.


إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

Sesungguhnya oran-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (QS. Al-A 'raf: 201)

Bila setan berhasil menimpakan kelalaian pada hati kita dan menjauhkan kita dari sebagian kebaikan, maka hendaklah kita lebih merrperserius perjalanan, mengerahkan upaya, dan menghadap kepada Allah.


وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya. (QS. Asy-Syura: 25)

Hendaklah manusia melakukan persiapan dengan senantiasa bertaubat, memohon ampun, dan meninjau lembaran-lembaran masa lalu. Apabila kita mendapatkan kebaikan, kita memuji Allah, dan apabila kita mendapatkan keburukan, kita meninggalkannya seraya bertaubat kepada-Nya. "Wahai pencari keburukan, berhentilah!"

Jika dalam sehari Rasulullah SAW bertaubat seratus kali, sedangkan sebagaimana Anda tahu, Allah telah mengampuni segala dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang, maka bagaimana pendapat Anda tentang orang yang diliputi oleh perbuatan maksiat dari segala penjuru serta tenggelam dalam kesenangan dan syahwatnya. Maka kewajiban kita adalah memperbanyak istighfar apalagi kita berada dalam bulan suci. Kita menghadap kepada Allah dengan keimanan sempurna dan keikhlasan yang tulus, seraya memohon agar Dia memberi kita kemampuan untuk menempuh sebab-sebab.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murniya, mudah-mudahan Tuhan kalian akan menutupi kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (QS.At-Tahrim: 8)

Taubat yang murni dan penghadapan yang tulus dengan kembali kepada Allah SWT adalah salah satu sebab kebahagiaan sempurna pada hari kiamat dan jalan untuk menyertai Nabi SAW.


وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa': 69)

Maka, sejak sekarang hendaklah Anda bersungguh-sungguh menyucikan diri dari kotoran-kotoran dosa dan maksiat, karena Anda semua menghadapi kedatangan bulan Ramadhan. Karunia Allah di bulan Ramadhan lebih luas daripada di waktu lainnya. Maka, persiapkan diri Anda semua untuk menghadapi kewajiban agung ini. Nabi SAW. bersabda,

Barangsiapa telah didatangi bulan Ramadhan, tetapi tidak mendapatkan ampunan dari Allah, maka Allah tidak akan memberikan ampunan kepadanya.

Orang yang celaka adalah yang dihalangi dari rahmat Allah SWT pada bulan Ramadhan. Adalah wajib untuk mengingatkan diri tentang keutamaan bulan ini dan mempersiapkannya untuk beramal di dalamnya. Ramadhan telah mendorong amal yang banyak dan kewajiban yang luhur, seperd puasa, shalat, dzikir, serta membaca kitab Allah yang bisa membersihkan jiwa dan menghidupkan hati. Nabi SAW bersabda,

Puasa dan Al-Qur'an, pada hari kiamat akan memberikan syafaat kepada hamba. Puasa berkata, 'Rabbi, aku telah mencegahnya dari makan dan syahwat, maka perkenankan aku memberikan syafaat kepadanya.' Al-Qur'an berkata, 'Rabbi, aku telah mencegahnya dari tidur malam, maka perkenankan aku memberikan syafaat kepadanya.' Maka keduanya di perkenankan memberikan syafaat kepadanya.

Rasul SAW membaca dan mempelajari Al-Qur'an di hadapan Jibril pada bulan Ramadhan, sekali. Dan pada tahun terakhir beliau membacanya dua kali. Dakwah Anda semua adalah dakwah Al-Qur'an, sedangkan Anda sekalian mengatakan, "Al-Qur'an adalah pedoman hidup kami." Maka, bulan Ramadhan adalah dakwah Anda. Perbanyaklah membaca Al-Qur'an dan renungkan kandungannya, karena Anda akan mendapatkan kenikmatan baru padanya ketika membaca ulang, sekalipun Anda seorang hafizh (penghafal) Al-Qur'an. Anda akan merasakan pengaruh yang menakjubkan jika membacanya dengan penghayatan makna. Jangan berusaha memahaminya dengan mendalami hal-hal yang pelik-pelik dan kajian yang njlimet, tetapi bacalah sebagaimana para sahabat Rasulullah SAW membacanya. Barangsiapa membacanya seperti ini, maka untuk setiap huruf yang dibacanya ia mendapat sepuluh kebaikan, dan Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mendengarkan satu ayat dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan cahaya dan petunjuk pada hari kiamat.

Ketahuilah bahwa bulan ini merupakan bulan sedekah dan kezuhudan terhadap materi. Karena itu, banyaklah menyantuni fakir miskin. Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan dan kedermawanan beliau paling besar terlihat pada bulan Ramadhan. Berusahalah agar, Anda mempunyai amalan yang tidak Anda tinggalkan selama bulan Ramadhan. Bersemangatlah dalam melaksanakan shalat tarawih. Kita melaksanakannya dengan membaca seluruh Al-Qur'an, delapan rakaat. Shalat tarawih merupakan salah satu sunah muakadah serta syiar dan kekhususan bulan Ramadhan. Ia adalah wadah tempat hati seorang muslim berhubungan dengan Tuhannya. Nabi SAW didatangi oleh Jibril pada bulan Ramadhan, lantas membacakan Al-Qur'an di hadapannya. Karena Ramadhan adalah puasa di siang hari sekaligus cocok untuk menjadi bulan bangun di malam hari, sedangkan malam sangat cocok untuk dilaksanakan shalat. Jumlah rakaat dalam shalat tarawih adalah delapan, itulah yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Bisa pula dua puluh rakaat, yaitu sebagaimana yang dilaksanakan oleh Umar ra. Ada pula yang melaksanakan tiga puluh enam rakaat, dan ini sebagaimana yang dilaksanakan oleh penduduk Madinah. Masing-masing mempunyai dasar dari sunah.

Tujuan pelaksanaan shalat tarawih adalah menjalin interaksi dengan Allah dan Kitabullah. Disunahkan untuk memanjangkan shalat tarawih ini. Shalat tarawih tidak dimaksudkan untuk memperbanyak rakaat saja, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang, sambil melaksanakannya secara tergesa-gesa sehingga menjadikannya cacat, sementara mereka lupa bahwa shalat tarawih ddak lain untuk menikmati kitabulah dan inilah rahasia di dalamnya. Jika ada pertentangan antara kedua hal itu, maka mencukupkan dengan delapan rakaat panjang lebih baik daripada dua puluh rakaat dengan tergesa-gesa. Diriwayatkan dari Abu Bakar ra. yang berkata, "Kami meninggalkan shalat tarawih, agar orang-orang yang berpuasa bisa segera makan sahur, lantaran khawatir terbitnya jajar. "

Mereka biasa membaca seluruh surat Al-Baqarah, bersandar di atas tongkat karena lamanya berdiri dan membaca, sehingga mereka bisa menkmati kitab Allah. Yang dikehendaki dalam pelaksanaan shalat ini adalah perhatian terhadap jiwa pensyariatannya, pelaksanaannya sebaik mungkin, dan pemanfaatan kesempatan untuk mendengar bacaan Al-Qur'an. Adapun acara ritual yang dilakukan oleh sebagian umat Islam sehingga menimbulkan suara gaduh di masjid, seperti shalawat dan kalimat la ilaha illallah wahdahu la syarikalah... dst. yang mereka baca dengan suara keras, itu sama sekali bukan termasuk dalam ajaran agama. Menghadapi keadaan ini, seorang mursyid harus berlaku lemah lembut dalam dakwah dan menggunakan kebijaksanaan dalam memberikan bimbingan, tanpa kekerasan.


ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. (QS. An-Nahl: 125)

Jika kita mempunyai kekuatan, maka kita bisa memaksa mereka, tetapi jika tidak, maka kita harus mengajak mereka dengan lemah lembut.


وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. An-Nur: 54)

Yang bertanggung jawab terhadap kondisi seperti ini adalah Departemen Wakaf dan Al-Azhar Asy-Syarif. Tidak perlu menciptakan persengketaan antara seorang muslim dengan saudara muslim lainnya. Menjaga persatuan adalah kewajiban, sedangkan shalat tarawih adalah sunah. Menjaga kewajiban itu lebih utama daripada menjaga sunah. Para da'i dan mursyid berkewajiban untuk mengarahkan perhadan para pemimpin mereka untuk memperbaiki keadaan ini dengan bijaksana. Hendaklah Anda semua senantiasa menjaga pelaksanaan sesuatu yang lebih sempurna dan lebih baik.

Di bulan Ramadhan Anda juga menanti malam-malam mulia, saat kebaikan tercurah. Malam ketujuh belas adalah malam bersejarah yaitu ketika pertolongan teoritis dan praktis terwujud nyata dalam perang Badr, saat dua pasukan saling berhadapan.


فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ

Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) vang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang- orang yang mempunyai mata hati. (QS. Ali I mran: 13)

Lailatul Oadar jatuh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Bahkan sepuluh malam ini merupakan malam-malam tajalli, karena itu hendaklah Anda menggembleng jiwa di dalamnya dan membersihkannya dari urusan-urusan dunia. Menghadaplah kepada Allah dengan shalat, munajat, dan terus-menerus berdoa, karena Allah menyukai orang yang terus-menerus berdoa. Barangsiapa memiliki waktu luang, hendaklah beri'tikaf dan tidak keluar dari masjid kecuali untuk kebutuhan yang mendesak, karena i'tikaf adalah sunah Rasulullah SAW. dan dilaksanakan pula oleh orang-orang shalih. Adapun yang mempunyai kesibukan, setidaknya supaya beri'tikaf di malam hari. Jika sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan datang, beliau SAW. "mengencangkan sarung", melaksanakan qiyamul lail, dan membangunkan istri-istrinya.

Ketahuilah bahwa interaksi yang dikehendaki di bulan Ramadhan adalah interaksi dalam ketaatan kepada Allah, tidak dalam permainan. Tetapi yang dilakukan manusia justru sebaliknya, mereka menjadikan Ramadhan sebagai bulan kelalaian dan permainan. Di antara mereka ada yang menghabiskan waktu-waktu di bulan Ramadhan di kelab-kelab, tempat-tempat hiburan, dan kafe-kafe. Di antara mereka ada juga yang mendatangi seorang fakih di satu ruangan untuk membaca Kitabullah di dalamnya, setelah itu mereka meninggalkannya ke ruangan lain untuk berbincang-bincang semaunya, tidak mendengarkan ataupun mcntadabun ayat Al-Qur'an.

Suatu ketika Ibnu Masud ra. berlalu di hadapan sekelompok orang yang berada di sisi jalan. Ia berkata kepada mereka, "Para sahabat Muhammad biasa saling berkunjung karena Allah." Mereka menjawab, "Motif kami keluar dari rumah tidak lain adalah saling berkunjung karena Allah." Ia berkata kepada mereka, "Bergembiralah. Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

Kamu semua tetap dalam keadaan baik, selama masih saling mengunjungi.

Karena itu, Ikhwan sekalian, hendaklah Anda semua menjadikan bulan ini sebagai bulan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan melaksanakan tradisi yang dilakukan oleh salafus-shalih radhiyallahu 'anhum. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya. [Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna, Keutamaan Ramadhan]

Minggu, 24 Juni 2012

Tahapan Ukhuwah Islamiyah




Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Ukhuwah Islamiyah muncul sebagai penyangga kepada kekuatan aqidah dan merupakan nikmat yang Allah swt berikan di samping ianya juga adalah suatu kehendak Allah swt.

Kita hanya mampu berusaha untuk sentiasa mempersatukan hati-hati kita, namun Allah jualah yang dapat memadukannya.

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Anfal : 63)

HAKIKAT UKHUWAH ISLAMIYAH
Ukhuwah Islamiyah ialah suatu ikatan yang mempunyai ciri-ciri berikut :

PERTAMA : Ia adalah nikmat Allah swt

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu kerana nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran : 103)

KEDUA : Umpama tali tasbih yang hanya diikat dengan taqwa

“Teman-teman akrab pada hari itu sebahagiannya menjadi musuh bagi sebahagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS Az Zukhruf : 67)

KETIGA : Merupakan kehendak Rabbani



“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Anfal : 63)

KEEMPAT : Merupakan cermin kekuatan iman



“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Maka, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al Hujuraat : 10)



Berkenaan dengan usaha peningkatan Ukhuwah Islamiyah ini, adalah sesuatu yang munasabah untuk kita meneliti tahapan-tahapan (maraahil) yang pernah ditempuh oleh Rasulullah saw dan para sahabat dan selayaknya untuk dijadikan sebagai asas untuk kita berpijak dalam membina Ukhuwah Islamiyah di manapun kita berada.



Program peneguhan ikatan Ukhuwah Islamiyah memerlukan proses yang :



a. Agak panjang.

b. Bertahap.

c. Berterusan.



Setidak-tidaknya ada empat (4) tahap yang mesti dilalui sebelum terciptanya Ukhuwah Islamiyah yang benar-benar kuat dan utuh.



PERTAMA : TAHAP SALING KENAL MENGENAL (TA’ARUF)



Dalam tahap ini, seorang muslim tidak hanya mengenal begitu sahaja saudaranya; namun ia seharusnya pergi lebih jauh dan mencuba untuk mengenali :



1. Penampilan saudaranya.

2. Sifat-sifat (Syakhsiyah) saudaranya.

3. Pemikiran saudaranya.



Pengenalan dalam tahap ini mencakupi aspek ‘jasadi’ (fizikal), ‘fikri’ (pemikiran) dan’nafsi’ (kejiwaan).



KEDUA : TAHAP SALING MEMAHAMI (TAFAAHUM)



Ini merupakan tahap yang penting kerana ia mencakupi berbagai proses penyatuan. Seperti juga dalam tahap pertama, ruang lingkup proses ‘tafaahum’ ini adalah lebih kurang sama. Perbezaannya terletak pada kekuatan pengenalan.



Pada tahap ini, setiap muslim dituntut untuk memahami :



a. Kebiasaan saudaranya.

b. Kesukaan saudaranya.

c. Karakter saudaranya.

d. Ciri khas individu.

e. Cara berfikir saudaranya.



Dengan yang demikian, perasaan-perasaan seperti “tidak enak”, “tidak sesuai” dan sebagainya

dapat dihapuskan dalam rangka saling menasihati.



Dalam tahap ini terdapat tiga bentuk proses penyatuan yang meliputi :



A.PENYATUAN HATI (TA’LIFUL QULUB)



Penyatuan hati merupakan asas awal yang mesti ada dalam proses pembentukan ukhuwah kerana hati (qalb) merupakan sumber setiap gerakan dan sikap seseorang dalam :



1. Menilai.

2. Memilih.

3. Mengasingkan.

4. Mencintai.

5. Membenci.



Apabila hati telah terpaut dan jiwa telah menyatu, barulah persaudaraan seseorang dengan yang lainnya akan :



a. Berjalan lancar.

b. Bersih.

c. Dipenuhi rasa kasih sayang.



Hati manusia hanya mampu disatukan secara murni dan bersih apabila bermuara kepada satu simpul ikatan yang fitrah dan simpul tali itu adalah aqidah.



Inilah satu-satunya asas berpijak, bertemu dan menjadi pengikat yang utuh dan abadi.



“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu kerana nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran : 103)



B.PENYATUAN PEMIKIRAN (TA’LIFUL AFKAR)



Dalam proses ini, orang-orang yang sudah sehati sejiwa sepatutnya berhimpun bersama untuk mempelajari suatu sumber yang sama sehingga menghasilkan suatu fikrah (cara berfikir) yang serupa.



Bahkan yang jauh lebih penting adalah bila berlaku perbezaan cara pandang, maka dengan titik mula cara berfikir yang sama akan dapat diselesaikan dengan segera sehingga mampu meningkatkan keberkesanan kerja.



Ikatan Ukhuwah Islamiyyah adalah ikatan yang aktif dan dinamik dalam menegakkan kalimah Allah swt.



Untuk itu diperlukan tidak hanya sekadar hati yang ikhlas tetapi juga :



1. Gagasan.

2. Pemikiran.

3. Konsep.

4. Idealisma



yang cemerlang.



Meskipun sekelompok individu telah saling mengikatkan diri, sehati dan sejiwa; namun kerana terdapat perbezaan orientasi dan wawasan pemikiran, maka strategi dan taktik pun menjadi berserakan di mana akhirnya kerja akan membawa kepada kegagalan dan kekalahan.



Oleh kerana itulah tahap “penyatuan pemikiran” ini menjadi suatu kemestian dalam membentuk Ukhuwah Islamiyah.



C.PENYATUAN KERJA (TA’LIFUL AMAL)

Individu-individu yang telah berhimpun di atas tujuan dan pemikiran yang sama ini tidak boleh hanya berdiam diri sahaja atau bekerja sendiri-sendiri (single fighter).



Adalah menjadi sunnatullah bahwa sesuatu yang diam atau tidak bergerak mempunyai kecenderungan untuk mendapat penyakit misalnya seperti air yang terkumpul dan tidak mengalir boleh menjadi sumber penyakit.



Demikian pula dengan kumpulan individu yang bersemangat tinggi dan memiliki setompok gagasan cemerlang akan menjadi “penyakit” apabila tidak ada langkah kerjanya.



Oleh kerana itu sangat perlu adanya kerja yang nyata dalam berbagai bidang dan keahlian dan agar kerja itu berkesan, maka ianya hendaklah tersusun dalam suatu arus yang terarah.



KETIGA : TAHAP SALING TOLONG MENOLONG (TA’AWUN)

Dalam proses penyatuan kerja, adalah suatu yang mutlak diperlukan usaha tolong-menolong yang merupakan usaha lanjutan dari tahap ‘tafaahum’ (saling memahami) pada tahap kedua di atas.



Saling mengenal semata-mata tanpa diteruskan dengan saling memahami tidak akan mampu membentuk hubungan antara individu yang mampu tolong menolong, saling isi-mengisi dengan kekurangan dan kelebihan yang terdapat pada setiap individu.



KEEMPAT : TAHAP SALING MEMIKUL BEBANAN (TAKAAFUL)



Tahap ini merupakan mercu dari proses Ukhuwah Islamiyyah iaitu terletak pada timbulnya rasa senasib dan sepenanggungan meliputi suka mahupun duka dalam setiap langkah kerja.



Apabila tahap takaaful ini terwujud, maka ikatan Ukhuwah Islamiyahpun terbentuk dengan

utuh.



Dari rangkuman di atas, kita dapat lihat bahwa usaha penyatuan peribadi-peribadi muslim dalam suatu amal Islami adalah merupakan perbuatan yang sia-sia jika tidak dimulai dengan tahapan dan proses yang telah disebutkan itu.



KEPENTINGAN UKHUWAH ISLAMIYAH

Sebagaimana yang kita semua ketahui bahwa umat Islam menghadapi berbagai permasaalahan samada diri mereka sendiri ataupun di peringkat antarabangsa terutama setelah jatuhnya kekhalifahan Islam yang terakhir pada tahun 1924.



PERTAMA :



Di kalangan mereka sendiri, umat Islam ketika ini terpecah-pecah menjadi lebih 55 negara di mana masing-masing bangga dengan negaranya sendiri. Seringkali negara-negara Islam sendiri tidak mempunyai perasaan damai antara satu dengan yang lain. Bahkan tidak jarang pula satu negara dengan yang lain terjadi peperangan kerana hanya satu masalah yang remeh misalnya batas wilayah.



KEDUA :

Umat Islam telah kehilangan satu kepimpinan dan akibatnya sering lemah dan tidak berdaya

dalam menghadapi musuh-musuh Islam. Ini dapat dilihat dengan jelas terhadap peristiwa pembantaian umat Islam yang berlaku di Palestin, Kashmir, Bosnia, Asia Tengah, India dan lain-lain.



KETIGA :



Hubungan di antara orang-orang Islam sendiri tidak begitu kemas di mana kita sering tidak memberikan hak kepada saudara kita se-Islam dengan semestinya. Akibatnya ikatan antara sesama muslim menjadi begitu lemah sekali kerana mereka hanya berbaik-baik jika ada keuntungan yang boleh diraih tapi jika tiada apa-apa manfaat keduniaan, maka agak sukar untuk mereka memikirkan akan nasib saudara mereka sendiri dalam Islam seolah-olah tidak ada ikatan yang istimewa di antara orang-orang Islam.



Mari cuba kita renungkan kenapa umat Islam jatuh kepada keadaan seburuk ini?



Di sinilah letaknya kepentingan Ukhuwah Islamiyah. Banyak permasalahan Umat Islam akan mudah ditangani jika kita benar-benar mampu memahami kaidah Ukhuwah (persaudaraan) Islamiyah dan membina Ukhuwah Islamiyah yang sebenarnya.



Allah swt dengan cantiknya menggambarkan hubungan antara sesama orang-orang yang beriman:



“Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Maka, damaikanlah (perbaiki hubungan) antara kedua saudaramu itu, dan patuhlah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al Hujuraat : 10)

Dalam ayat ini Allah swt mengaitkan ukhuwah (persaudaraan) dengan iman, menunjukkan betapa pentingnya makna Ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah dijadikan oleh Allah swt sebagai salah satu dari tanda-tanda orang yang beriman.



Dalam sirah Rasulullah saw, kita dapat menghayati makna daripada ayat di atas bagaimana Rasulullah saw mengimplementasikan perintah Allah ini dalam membina umat Islam ketika itu.



Setelah baginda berhijrah dan sampai di Madinah, salah satu langkah yang paling awal yang beliau lakukan adalah mengikat persaudaraan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar.



Ikatan persaudaraan yang dibina oleh Rasulullah ini sedemikian kuatnya sehingga melebihi rasa persaudaraan di antara dua saudara kandung. Baginda juga memerintahkan dibangunnya Masjid sebagai pusat bertemunya orang-orang yang beriman paling sedikit 5 kali sehari.



Sebagaimana yang disebut sebelum ini bahwa dalam pembentukan Ukhuwah Islamiyah, ada tiga tahapan yang mesti dilalui iaitu :



a. Tahap ta’aruf (saling mengenal).

b. Tahap tafaahum (saling memahami).

c. Tahap takaaful (saling memikul bebanan).



Pada tahap “ta’aruf”, Ukhuwah mulai dirintis, iaitu dua (atau lebih) saudara Muslim saling mengenal dengan saling mengunkapkan latar-belakang masing-masing.



Allah swt berfirman :



“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu mengenal antara satu sama lain. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang lebih bertaqwa. Sesungguhnya ALlah Maha Tahu dan Mengerti.” (QS Al Hujurat : 13)

Dengan pengenalan ini maka kita mampu menghayati hakikat perbezaan-perbezaan (bangsa, kedudukan, status, ras, bahasa dan lain-lain) di antara kita dan akhirnya mampu menerima perbezaan-perbezaan ini sebagai kehendak Allah agar kita dapat saling mengenal.



Pada tahap “tafaahum”, tingkatan Ukhuwah adalah lebih tinggi lagi iaitu setelah kita mengenali latar belakang saudara kita, maka seterusnya kita perlu memahami diri saudara kita lebih terperinci lagi iaitu sehingga sampai ke tahap :



1. Mengenali dan memahami apa-apa yang disukai dan apa-apa yang dibenci oleh saudara kita.

2. Kita dapat bertindak dengan sebaik-baiknya kepadanya.

3. Kita memahami kelebihan dan kelemahan saudara kita.

4. Kita mampu bertindak demi untuk kebaikan saudara kita.



Manakala pada tahap “takaaful”, di sinilah tingkatan yang tertinggi sekali. Setelah kita

saling mengenal, kemudian saling memahami, akhirnya kita mampu saling berkongsi bebanan.



Allah swt memerintahkan kepada kita :



“….Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam mengerjakan dosa dan pelanggaran hukum….” (QS Al-Maidah : 2)



Bagaimana kita melaksanakan perintah Allah ini jika kita tidak saling mengenali antara satu sama lain?



Jadi kedua-dua tahapan Ukhuwah sebelumnya merupakan syarat asasi untuk tahapan “takaaful” ini.



Dalam harakah Islamiyah, terbinanya Ukhuwah Islamiyah mempunyai peranan yang penting sekali demi kejayaan dakwah.



Imam Hasan Al-Banna menjadikan Ukhuwah Islamiyah ini sebagai salah satu dari 10 rukun bai’ah dalam organisasi dakwah yang beliau bina.



Beberapa ungkapan beliau yang mungkin boleh kita kaji dalam pembentukan Ukhuwah Islamiyah adalah seperti berikut :



a. Kekuatan jamaah, sebagaimana organisasi-organisasi secara umumnya, adalah

terletak pada kekuatan ikatan para anggotanya.

b. Tiada ikatan yang lebih kuat dalam hal ini selain ikatan “cinta” yang diasaskan pada

aqidah Islam.

c. Tingkatan daripada “ikatan cinta” ini yang paling lemah adalah kebersihan hati kita

terhadap saudara kita (yakni dari segala macam penyakit hati seperti buruk sangka, iri-

hati, dengki, sombong, tamak, dan lain-lain).

d. Tingkatan yang paling tinggi daripada “ikatan cinta” ini adalah mendahulukan

kepentingan saudara kita berbanding kepentingan kita.



Akhirnya, kita cukup memahami betapa pentingnya Ukhuwah Islamiyah ini bagi diri kita sendiri sebagai individu Muslim. Kita semua tahu bahwa agama Islam adalah agama Allah dan Allah telah menjanjikan kewujudan dan kemenangan Islam.



Jadi, samada kita mahu menjalin Ukhuwah Islamiyah atau tidak, Islam akan tetap kekal dan dakwah Islam akan terus berjalan, tetapi kita tidak boleh hidup tanpa Ukhuwah Islamiyah ibarat sekelompok biri-biri di pinggir hutan di mana seekor serigala hanya akan mampu menangkap seekor biri-biri yang terkeluar dari kelompoknya.


Ya Allah, jadikanlah Ukhuwah sebagai asas kepada kekuatan dan kemuliaan kami. Mudahkanlah kami dalam memenuhi hak-hak Ukhuwah yang tersimpul dalam tiga tahapan iaitu Ta’aruf, Tafaahum dan Takaaful. Jalinkanlah ikatan Ukhuwah yang kukuh antara sesama kami melalui kesatuan hati, pemikiran dan amal.

Ameen Ya Rabbal Alameen
“UKHUWAH TERAS KEGEMILANGAN”

“IKRAM WADAH PERJUANGAN”

Jumat, 22 Juni 2012

Ya Rasulullah


Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu
Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu

Ya Rasulullah Ya Habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kami rindu padamu
Allahumma Solli Ala Muhammad
Ya Rabbi Solli Alaihi Wasallim ( 2X )

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kudakap dirimu
Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya tuhan saja yang tahu

Kutahu cintamu kepada umat
Umati kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafaatkan kami
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu

Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Terimalah kami sebagai umatmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kurniakanlah syafaatmu

Rabu, 20 Juni 2012

Keutamaan Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban adalah bulan yang ke-8 dalam sistem kalender Islam. Bulan Sya’ban berada di antara bulan hijriyah Rajab dan Ramadhan. Nama bulan ini berakar dari kata bahasa arab tasya’aba yang berarti berpencar. Pada masa itu, kaum arab biasa pergi memencar, keluar mencari air. Bulan Sya’ban juga berasal dari kata sya’aba yang berarti merekah atau muncul dari kedalaman karena ia berada di antara dua bulan yang mulia juga.

Rasulullah menyebut bulan Sya’ban ini sebagai bulan yang sering dilupakan manusia. Ia dilupakan karena berada di antara dua bulan yang menyedot perhatian: bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab diperhatikan karena ia merupakan salah satu dari bulan Haram, sementara Ramadhan karena adanya kewajiban puasa sebulan penuh di dalamnya.

Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban

Rasulullaah biasa memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Beliau hampir penuh puasa di bulan ini. Beliau hanya berbuka atau tidak berpuasa pada beberapa hari saja.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Aisyah mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (H.R. Al Bukhari dan Msulim)

Aisyah mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ، عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، ثُمَّ صَامَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan Sya’ban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan Sya’ban sampai 30 hari.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanad-nya disahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan,

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ، وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i dan disahihkan Al Albani)

Hadis-hadis di atas merupakan dalil keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, melebihi puasa di bulan lainnya.

Keistimewaan Sya’ban

Ternyata, puasa beliau ini mengandung hikmah yang luar biasa. Dari sisi fisik, ia merupakan persiapan bagi kita untuk menghadapi puasa di bulan Ramadhan yang sebulan penuh. Dari sisi spiritual, hadits berikut ini menyatakan rahasia hikmah di balik memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, saya bertanya: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau (sering) berpuasa dalam satu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Beliau bersabda: “Itu adalah bulan yang kebanyakan orang melalaikannya yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Yaitu bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Maka aku ingin [ketika] amalanku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (Dinyatakan hasan oleh Al Albani dalam Shahih An Nasa’i, no. 2221; dishahihkan oleh Ibnu Huzaimah).

Betapa tergambar kedekatan Rasulullaah akan pengawasan Allah dan keinginan beliau untuk selalu memberikan yang terbaik sebagai seorang hamba kepada Rajanya. Beliau ingin mengantarkan amal-amal kebaikan yang sedang menuju keharibaan Allah dalam kondisi terbaik, terhindar dari maksiat dan dosa. Dan hal ini dapat dicapai dengan puasa.

Hikmah Puasa di Bulan Sya’ban

Ustadz Ammi Nur Baits dalam konsultasi syariahnya menyatakan bahwa ulama berselisih pendapat tentang hikmah dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa ini.

Pendapat yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadis dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani)

Memperbanyak Ibadah di Malam Nisfu Sya’ban

Kemudian beliau menjelaskan tentang para ulama yang berselisih pendapat tentang status keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Setidaknya ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut keterangannya:

Pendapat pertama, tidak ada keuatamaan khusus untuk malam Nisfu Sya’ban. Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban adalah hadis lemah. Al Hafidz Abu Syamah mengatakan: Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah –dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban– mengatakan, “Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satupun hadis shahih yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban’.” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, Hal. 33).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan Nisfu Sya’ban. Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam Nisfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At Tahdzir min Al Bida’, Hal. 11)

Pendapat kedua, terdapat keutamaan khusus untuk malam Nisfu Sya’ban. Pendapat ini berdasarkan hadis shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani).

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam mengatakan, “…pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…” (Majmu’ Fatawa, 23:123)

Ibn Rajab mengatakan, “Terkait malam Nisfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 247).

Jumat, 08 Juni 2012

Menjemput Hidayah



Horee bertemu lagi dengan kamu semua. Alhamdulillah kita tetap bersama meski hanya dijembatani buletin kesayangan kamu ini. Kalo pekan kemarin gaulislam bahas tentang tobat, maka sekarang semacam lanjutannya: menjemput hidayah. Ya, mudah-mudahan bisa melengkapi pemahaman kamu sebelumnya dan kamu semua jadi tambah wawasan tentang Islam. Sip deh!

Bro en Sis, ada satu pepatah menarik yang pernah saya dapatkan ketika mengisi salah satu acara bedah buku saya. Pengisi acara yang lain menyampaikan sebuah kata-kata mutiara: “Orang yang terbiasa berada dalam kegelapan, cahaya terang sangat menyilaukan”. Saya catat dalam ingatan saya. Saya tulis agar tak lupa. Pesan ini sangat bermakna bagi saya. Betapa dulu yang pernah saya rasakan, memang berat meninggalkan kebiasaan yang telah bertahun-tahun dilakukan. Anggapan yang sudah bercokol di benak harus dipaksa berubah bukanlah hal yang mudah. Saya berempati dengan teman-teman yang masih belum mau meninggalkan kebiasaan yang buruk untuk berganti dengan kebiasaan yang baik. Memang tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa diubah.

Oya, sebenarnya “kebiasaan” itu netral lho. Karakter “kebiasaan” itu sulit dimulai, dan sulit juga dihentikan. Beruntung bagi yang sudah melakukan “kebiasaan” baik, akan sulit baginya dipaksa untuk melakukan “kebiasaan” buruk. Tapi perlu kesadaran penuh bagi yang sering melakukan kebiasaan buruk, untuk dipaksa melakukan kebiasaan baik. Ia perlu banyak merenung dan menimbang-nimbang pikir dan rasa.

Ada niat berubah, ada hidayah
Bro en Sis, orang yang selalu berbuat maksiat belum tentu maksiat selamanya. Asalkan dia ingin berubah menjadi baik, ada niat dan usaha untuk mewujudkannya, insya Allah ada jalan untuk menjemput hidayah. Ada kisah menarik yang perlu menjadi inspirasi bagi kita. Kamu tahu Syaikh Fudail bin Iyadh? Bagi yang pernah tahu, beliau adalah salah satu guru Imam asy-Syafii. Tahukah masa lalunya?

Nah, inilah kisahnya: Fudhail bin Iyadh, semasa masih jahat, bermaksud mengganggu seorang wanita jelita. Ketika sedang memanjat tembok rumah wanita itu, tiba-tiba terdengar olehnya dari jendela rumah alunan merdu bacaan al-Quran yang artinya: “Belumlah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” (QS al-Hadiid [57]: 16)

Ayat tersebut menyentak sanubari Fudhail bin Iyadh, membuatnya terdiam di atas tembok. Tiba-tiba Bin Iyadh merasa persendiannya lumpuh. Lalu dengan tubuh gemetar dia mengiba, “Oh Tuhan, telah tiba waktuku. Telah tiba waktuku.” Dia pun turun dari tembok dan berjalan pulang dengan hati bertaubat setulus-tulusnya.
Karena kemalaman di jalan, Bin Iyadh istirahat di sebuah rumah kosong yang ditemuinya. Namun ternyata, di dalam rumah tua itu ada serombongan musafir yang tampaknya juga sedang beristirahat.

“Ayo kita berangkat sekarang saja,” dari luar bilik Fudhail mendengar seorang dari mereka berkata demikian.
Yang lain menjawab, “Jangan, lebih baik tunggu sampai pagi. Sebab, pada malam-malam seperti inilah biasanya si Fudhail menjalankan aksinya.”
Mendengar percakapan mereka itu, Fudhail menampakkan dirinya sambil berkata, “Akulah Fudhail. Tapi jangan takut, sekarang aku telah bertaubat dan tidak akan menyamun lagi.” (kisahnya dikutip dari Islamia, edisi April-Juni 2005)

Sobat muda muslim, banyak teladan di masa lalu yang bertaubat dari maksiat yang dilakukannya. Tak sedikit sahabat Nabi Muhammad saw. yang awalnya adalah musuhnya dan musuh Islam. Tahu kan Umar bin Khaththab ra? Semasa jahiliyahnya, yakni ketika belum jadi muslim, Umar bin Khaththab adalah halangan bagi dakwah Islam. Selain beliau, yang jadi halangan dakwah saat itu adalah Umar bin Hisyam alias Abu Jahal. Sampai-sampai Rasulullah saw. berdoa memohon kepada Allah agar Islam bisa kokoh dengan salah satu dari dua orang bernama Umar ini. Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzii dari Abdullah bin ‘Umar ra dan ath-Thabranii dari Abdullah bin Mas’uud dan Anas bin Malik Radhyillaahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda dalam doanya, “Allahummaa, kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, dengan Umar bin al-Khaththab atau dengan Abu Jahal (Umar bin Hisyam).”

Mau tahu kisahnya? Begini riwayat singkatnya: Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Anas bin Malik ra. dan Abdullah bin Abbaas ra., bahwasanya di tengah perjalanan mencari mereka, Umar bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah an-Nahlam al-Adwii, atau seorang laki-laki dari Bani Zuhrah, atau seorang laki-laki dari Bani Makhzum, yang bertanya kepadanya, “Hendak ke mana engkau wahai Umar?” Lantas di jawab oleh Umar dengan geramnya, “Aku mencari Muhammad yang telah memecah belah persatuan kita, mengacau ketentraman Quraisy, dan mencela agama nenek-moyang. Aku ingin membunuhnya!”
Orang tadi lalu bekata kepada Umar, “Demi Allah, kau sangat sombong wahai Umar. Apakah kiranya Bani Abdi-Manaf akan membiarkan kau berjalan di atas bumi setelah kau berhasil membunuh Muhammad? Apa yang bisa menjamin keamanan dirimu dari pembalasan Bani Hasyim dan Bani Zuhrah jika engkau membunuh Muhammad?”

Umar kemudian menjawab, “Menurut pengamatanku, rupanya engkau telah keluar dan meninggalkan agama yang telah engkau peluk selama ini.”
Orang itu lantas menjawab, “Bagaimana jika kutunjukkan sesuatu yang membuatmu lebih tercengang wahai Umar? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu juga telah keluar dari agama serta meninggalkan agama yang selama ini engkau peluk. Adikmu Fathimah dan suaminya telah menjadi pengikut Muhammad. Lebih adil engkau habisi mereka terlebih dahulu!”

Mendengar kabar itu, maka dengan terburu-buru Umar berlalu dan begegas menuju rumah Fathimah binti al-Khaththab, adik perempuannya. Di rumah Fathimah saat itu ada suaminya yaitu Sa’id bin Zaid bin Nufail dan kawan mereka yaitu Khabbaab bin al-Arat ra. Mereka sedang mendengarkan ayat al-Quran yang dibacakan oleh Khabbab yaitu dari surah Thaahaa (20). Ketika Khabbaab mendengar suara kedatangan Umar, dia segera menyingkir ke bagian belakang ruangan, sedangkan Fathimah menyembunyikan shahifah (lembaran) berisi ayat al-Quran. Namun tatkala mendekati rumah adiknya tadi, Umar sempat mendengar bacaan Khabbab di hadapan adik dan iparnya.

“Apa suara bisik-bisik yang sempat kudengar dari kalian tadi?” tanya Umar ketika sudah masuk rumah. “Hanya sekadar obrolan di antara kami, “ jawab Fathimah dan suaminya. “Kupikir kalian berdua sudah keluar dari agama, “kata Umar lagi. Kemudian Sa’id bin Zaid bin Nufail yang merupakan adik ipar Umar itu berkata, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran ada dalam agama selain agamamu?”

Seketika Umar melompat ke arah adik iparnya dan memukul mukanya hingga jatuh tak berkutik lantas menginjak-injaknya keras-keras. Fathimah kemudian mendekat untuk menolong suaminya dan mengangkat badannya. Namun Umar memukul Fathimah hingga bibirnya luka dan bercucuran darah.

Demi melihat keadaan adiknya, Umar akhirnya sadar dan timbul rasa iba dalam hatinya. Sementara Fathimah dengan berang berkata kepadanya, “Wahai Umar, benar kami telah memeluk Islam, beriman kepada Allah dan RasulNya. Sekarang kau boleh berbuat apa saja terhadap kami.” Kemudian Fathimah berkata lagi, “Wahai Umar, jika memang kebenaran itu ada dalam selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada Ilaah selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”

Umar mulai merasa putus asa, dan dia melihat darah yang meleleh dari bibir adiknya. Maka Umar merasa menyesal dan malu atas perbuatannya. Lalu ia berkata, “Serahkan lembar-lembar yang kalian baca itu kepadaku. Aku ingin membaca apa yang telah diajarkan Muhammad!” Tetapi Fathimah menjawab, “Engkau adalah orang yang najis. Shahifah ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci. Bangun dan mandilah jika mau!” Maka Umar segera mandi dan setelah itu memegang shahifah tadi dan mulai membaca isinya yaitu surat Thaahaa (20) dari awal dengan membaca, “Bismillaahir rahmaanir rahiim.” Lalu Umar berkata, “Nama-nama yang bagus dan suci.” Kemudian ia melanjutkan pembacaan dari ayat satu hingga berhenti pada firman Allah di ayat 14: Innanii anallaahu laa ilaaha illaa ana fa’ budni wa aqimish shalaata li dzikrii. Diterjemahkan, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu.”

Setelah membaca ayat tersebut, sanubarinya tersentuh dan Umar serta merta sadar bahwa yang telah dibacanya belum pernah terdengar olehnya. Maka tiba-tiba secara drastis suara dan sikapnya berubah. Umar lantas berkata, “Alangkah indah dan mulianya kata-kata ini! Tunjukkan padaku di mana Muhammad berada saat ini!”

Mendengar perkataan Umar barusan, maka Khabbaab bin al-Arat muncul dari belakang rumah dan berkata, “Terimalah kabar gembira wahai Umar. Karena aku benar-benar berharap agar doa Rasulullah saw. pada malam Kamis itu jatuh kepada dirimu. Segeralah engkau menghadap beliau, wahai Umar!”

Singkat cerita, Umar bin Khaththab masuk Islam langsung di hadapan Rasulullah saw. Ketika itu, sesampainya Umar di kamar dan bertemu dengan Rasulullah saw., ia disambut oleh beliau dengan cara memegang baju dan pegangan pedangnya, lalu menariknya dengan tarikan yang keras seraya bersabda, “Apakah engkau tidak mau menghentikan tindakanmu wahai Umar, hingga Allah menurunkan kehinaan dan bencana seperti yang menimpa al-Walid bin al-Mughirah? Ya Allah. Inilah Umar bin al-Khaththab. Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin al-Khaththab.”

Umar kemudian menjawab, “Ya Rasulullah, aku datang untuk menyatakan iman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya serta apa-apa yang datang dari Allah.” Umar berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Ilaah selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah.”

Umar bin al-Khaththab ra adalah seseorang yang memiliki watak tempramental dan sulit dihalang-halangi, sehingga dengan dirinya masuk ke dalam Islam sangat mengguncangkan orang-orang musyrik dan menorehkan kehinaan bagi mereka. Sebaliknya, hal ini mendatangkan kehormatan, kekuatan dan kegembiraan bagi orang-orang muslim.

Subhanallah. Tak ada yang mustahil. Siapa pun bisa menjadi baik. Ahli maksiat sekalipun bisa berubah jadi baik, bahkan jadi ulama. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa juga menyaksikan satu per satu kawan kita menjadi baik. Teman sepermainan kita yang lama tak jumpa, ketika bertemu sudah berubah penampilannya. Berubah pula akhlaknya. Dia menemukan kebenaran Islam di tempat lain. Bukan mustahil toh?

Kita yang kini termasuk para pengemban dakwah, bisa jadi bukanlah orang yang baik-baik di masa lalu. Bisa jadi malah penghalang dakwah. Seorang kawan pernah bercerita, bahwa ketika dirinya sekolah di SMA, kepala sekolahnya sangat tidak setuju dengan siswi yang mengenakan kerudung dan jilbab. Bahkan sempat bersitegang mempertahankan pendapatnya bahwa dirinya memimpin sekolah umum, bukan pesantren. Namun ketika dirinya dipindahkan tugas ke sekolah lain, ternyata ada kabar baik, bahwa kini dirinya sudah mengenakan kerudung. Sudah berbusana muslimah, dan malah baik kepada siswi yang mengenakan kerudung dan jilbab.

Ya, ini menunjukkan bahwa tak selamanya manusia itu berada dalam maksiat. Tak selamanya terus berbuat dosa. Pasti ada saatnya untuk berbuat baik. Asalkan ada kemauan untuk mengubah, insya Allah akan mendapat hidayah dari Allah Swt. Memang, kalo ngikutin hawa nafsu, rasanya betapa berat meninggalkan maksiat. Namun demikian, bukan berarti harus menyerah, apalagi “kepalang basah”. Tidak. Kesadaran untuk berubah jauh lebih baik dan bisa mengalahkan hawa nafsu. Insya Allah. Percayalah![solihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]