Dan merupakan kisah yang terjadi di tahun 2005, cukup lama namun semoga perjalanan hidup beliau menjadi penyemangat yang akan membakar ghirah perjuangan ini. Allahu akbar…
Baghdady, itulah nama aslinya. Putra Bapak Johan ini dilahirkan di Gebang, Langkat tahun 26 Maret 1980. Alumni Pesantren Mustofawiyah, Purba, Sumatera Utara ini di masa remajanya menghabiskan waktu untuk menimba ilmu dari banyak Ulama, termasuk beberapa tuan guru dari Thariqat Naqsabandy. Hingga pada usia 19 tahun anak muda yang sering menggunakan nama Muhammad Amir Badroni ini telah diberi gelar Syaikh. Suatu maqom yang cukup tinggi dalam Thariqat yang didirikan oleh Syaikh Abdul Wahab Rokan ini.
Memang Baghdady masih termasuk keturunan Syaikh Abdul Wahab Rokan. Selepas lulus pesantren Mustofawiyah, anak muda yang sangat energik ini melanjutkan kuliah di IAIN Sultan Syarif Qasim Pekanbaru. Di Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah, Badroni (Baghdaday Ar-Rokani) sempat menjadi Bupati (semacam Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan). Di tengah masyarakat, sambil kuliah Baghdady juga aktif sebagai da’i di Ikatan Keluarga Masjid Indonesia (IKMI) Riau. Aktifis yang berkeinginan kuat untuk syahid di medan juang ini juga membina masjid Firdaus, Tangkerang, Pekanbaru. Mendidik anak-anak MDA di sekitar Masjid Firdaus.
Sosok muda yang sholeh, santun dan berakhlaq menawan ini, sempat dekat dengan jamaah Salafiyah di Pekanbaru. Namun tidak berapa lama dia bergabung dengan jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin). Rupanya anak muda ini begitu aktif dan terus mencari dan mencari. Setelah lama bergelut dengan Ikhwanul Muslimin, akhirnya tahun 2001 dia bertemu dengan para aktifis Hizbut Tahrir. Mulailah dia mengikuti kajian-kajian umum, membaca buletin Al-Islam dan jurnal Al-Wa’ie. Pertama-tama dia dibina oleh Ustadz Jabir Ardiansyah, MAg. Tidak lama kemudian diapun ikut kajian intensif sebagai daris dibina oleh Ustadz Muhammadun dan Ustadz Muhammad Farhan, hingga tahun 2003, Pemuda yang rajin shalat tahajjud dan jarang meninggalkan shaum senin kamis ini memutuskan bergabung menjadi anggota Hizbut tahrir. Ternyata dia merasa puas. “Inilah harokah yang benar-benar sesuai dengan garis perjuangan Rasulullah, …” inilah pernyataan dia berkali-kali pada penulis dan teman-temannya. Hatinya merasa tenang, akalnya terpuaskan. Api semangat dakwah pada suami Amirah Nur Azizah ini semakin menyala-nyala. Puluhan pemuda dia rekrut. Hari-harinya hanya sibuk dengan dakwah dan perjuangan Islam. Bahkan tak jarang dia kurang perhatian terhadap kesehatannya. Dia yakin betul Daulah Khilafah akan segera tegak. Ketia saya sodorkan hasil analisa NIC, tentang scenario dunia tahun 2020, pejuang muda yang juga ketua umum Gerakan Mahasiswa Pembebasan Riau dengan penuh keyakinan menjawab, “ Pertolongan Allah sudah dekat Ustadz, …Allahu Akbar, ana yakin sebelum 2020 Khilafah Islamiyah sudah tegak”.
Aktifitas yang sangat mencengangkan para mahasiswa di Pekanbaru adalah dakwah keliling secara terbuka dengan mengibar-ngibarkan Arroya dan Al-Liwa. Dengan mengajak 8 orang teman-nya menggunakan sepeda motor hampir tiap hari sabtu, para aktifis muda ini berkeliling kampus IAIN, UNRI dan UIR. Kamudian mereka duduk melingkar, saling bertausiyah, bendera-bendera itupun mereka tancapkan mengelilingi halaqah terbuka mereka.
Cita-cita utama baghdady adalah tegaknya syari’ah dan Khilafah. Bagi dia solusi ini tidak bias ditawar-tawar. Darah dangingnya telah menyatu dengan tujuan mulia ini. Segala potensi dia kerahkan untuk perjuangan ini.
Namun, Allah mungkin begitu menyayangi sang pejuang Khilafah ini. Disaat semangatnya berada di Puncak. Setelah letih mengisi daurah, menyiapkan Acara Seminar Khilafah di Masjid Agung tanggal 27 maret 2005,dll. Ditengah-tengah perbincangan bersama teman-temannya tentang perjuangan umat Islam, Allah SWT memanggilnya. Jam 21.45 hari Sabtu tanggal 26 Maret 2005. Innalillahi wainna ilaihi raji’un.
Semua tersentak, anak-anak, jamaah ibu-ibu di beberapa masjid di Pekanbaru menangis, tokoh-tokoh Islam yang sering almarhum kontak pun terisak. Umat telah kehilangan salah seorang pejuang terbaiknya.
Beberapa keajaiban dapat disaksikan oleh beberapa orang pada jasad almarhum. Saya merasakan bau bunga yang sangat harum, di bekas tempat dia ditidurkan. Jamaah masjid Firdaus malihat muka almarhum begtu bercahaya, dan begitu ringan jasadnya. Selanjutnya almarhum dimakamkan di Kompleks Pemakaman Syekh Abdul Wahab Rokan, Langkat, Sumatera utara.
Semoga Allah SWT menempatkan Almarhum sejajar dengan para syuhada, sholihin dan shiddiqien. Dan semoga Allah menggantikannya dengan para pejuang lain. Amin. Wallahu a’lam bish-showab.







Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAssalamualaikum...
BalasHapusBagus artikelnya......
i like it...